Petani singkong di Desa Doho, Girimarto. [Foto: Dok. PanselaNews]
PanselaNews.com [WONOGIRI] – Musim panen singkong seharusnya menjadi waktu yang dinanti-nanti para petani. Namun kenyataannya, kebahagiaan tersebut tertutup oleh penurunan harga jual yang drastis, membuat petani harus menahan kekecewaan.
Terpuruknya harga singkong itu menjadi pukulan telak. Padahal sebagian besar warga menggantungkan hidup dari hasil panen singkong.
Sulardi [55], salah satu petani di Dusun Jetis, Desa Doho, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, mengungkapkan bahwa saat ini harga singkong basah hanya berkisar Rp 500 hingga Rp 550 per Kg. Harga itu jauh lebih rendah dibanding harga sebelumnya yang bisa mencapai Rp 900 per Kg. Sedangkan harga singkong kering saat ini berkisar Rp1600 hingga Rp1700 per kilogram.
Harga yang sangat rendah itu memukul pendapatan mereka di tengah hasil panen yang sebenarnya cukup melimpah.
Sulardi mengungkapkan ketidaktahuan mengenai penyebab pasti penurunan harga tersebut, tetapi ia menduga stok singkong yang melimpah menyebabkan nilai jual menurun drastis.
“Saya kurang paham kenapa harganya anjlok, mungkin karena stok melimpah sehingga berpengaruh terhadap nilai jual,” ucapnya, Senin, 15 September 2025
Keluhan serupa disampaikan Sunarso [54], petani lain di Dusun Jetis. Ia menuturkan bahwa harga singkong saat ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun sebelumnya harga singkong basah bisa mencapai Rp900 bahkan Rp1.100 per kilogramnya,” ujarnya
Ia berharap pemerintah bisa turun tangan untuk membantu menstabilkan harga agar petani bisa mendapatkan hasil yang layak dari jerih payah mereka.
Tantangan dan Harapan bagi Petani Singkong
Anjloknya harga singkong menjadi peringatan penting bagi semua pihak, baik pemerintah, pelaku pasar, maupun masyarakat luas, agar lebih memperhatikan keberlangsungan sektor pertanian khususnya tanaman singkong.
Upaya stabilisasi harga perlu dilakukan agar petani tidak mengalami kerugian yang berlarut-larut, mengingat singkong adalah sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga di Wonogiri.
Editor: Sarno Kenes
