PanselaNews.com, Mandalay – Gempa besar yang mengguncang Myanmar pada akhir Maret 2025 telah menewaskan lebih dari 2.700 orang, dengan jumlah korban diperkirakan terus bertambah. Menurut laporan resmi junta militer Myanmar pada Selasa, 1 April 2025, sebanyak 2.719 orang tewas, 4.521 terluka, dan 441 lainnya masih hilang, sebagaimana dikutip dari CNA. Bencana ini memperburuk kondisi di negara yang sudah dilanda perang sipil sejak kudeta 2021, dengan Mandalay menjadi salah satu kota yang terdampak parah.
Tim penyelamat di Mandalay menghadapi tantangan besar akibat minimnya peralatan dan sulitnya akses ke daerah terpencil. Warga setempat terpaksa menggali reruntuhan dengan tangan kosong untuk mencari korban selamat, sementara banyak yang memilih tidur di luar rumah karena takut akan gempa susulan. Kekurangan air bersih, sanitasi, dan listrik semakin memperumit upaya penyelamatan, di tengah laporan bahwa junta militer tetap melancarkan serangan udara terhadap kelompok oposisi meskipun bencana melanda.
PBB mencatat bahwa sebelum gempa, sudah ada 3,5 juta pengungsi akibat konflik berkepanjangan di Myanmar. Kini, Palang Merah mengajukan permohonan darurat senilai US$100 juta (Rp1,6 triliun) untuk membantu korban. Junta Myanmar, yang biasanya menolak bantuan asing, kini meminta dukungan internasional—langkah langka yang menunjukkan skala krisis. Sementara itu, di Bangkok, Thailand, tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi korban dari reruntuhan gedung pencakar langit yang runtuh, dengan 13 tewas dan 74 hilang hingga saat ini.
Baca juga: Gempa 5,4 Magnitudo Guncang Banda Aceh, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Pemerintah Thailand tengah menyelidiki penyebab gedung tersebut ambruk, dengan temuan awal bahwa baja yang digunakan tak memenuhi standar. Di Myanmar, upacara hening selama satu menit digelar pada 1 April 2025 untuk mengenang korban, diikuti pengumuman masa berkabung seminggu dan penurunan bendera setengah tiang. Meski bantuan internasional mulai berdatangan, harapan menemukan korban selamat semakin tipis seiring waktu berlalu, meninggalkan masyarakat lokal dalam duka mendalam dan perjuangan bertahan hidup.(*)
