Jamasan pusaka tombak Kyai Upas di Tulungagung
PanselaNews.com [TULUNGAGUNG]β Pemkab Tulungagung menggelar jamasan pusaka tombak Kyai Upas. Jamasan ini dilakukan setiap tahun, pada hari Jumat di bulan Suro dalam sistem penanggalan Jawa. Tombak tersebut diyakini sebagai pusaka milik Ki Ageng Mangir, yang diwariskan ke Bupati terdahulu dan diturunkan hingga saat ini.
Menurut sejarah, tombak kyai upas merupakan pusaka milik Ki Ageng Mangir, menantu raja mataram yang menolak tunduk. Setelah Ki Ageng Mangir meninggal, tombak ini kemudian disimpan di pendopo kanjengan Tulungagung. Selain itu pusaka ini juga berkaitan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Tulungagung.
Juru kunci Tombak Kiai Upas, Winarto, mengungkapkan pusaka ini dipercaya berasal dari lidah Naga Baruklinthing, makhluk mitologis dalam cerita rakyat Mataram.
Dalam kisah yang beredar, Baruklinthing merupakan anak dari seorang putri kerajaan yang secara tidak sengaja kehilangan pisau pinjaman saat membantu acara desa.
Pisau tersebut diletakkan di atas paha, bertentangan dengan pesan pemiliknya, Ki Wanabaya.
Peristiwa itu menyebabkan kehamilan sang putri dan kelahiran Baruklinthing dalam wujud ular naga.
Saat dewasa, Baruklinthing mencari ayahnya.
Oleh Ki Wanabaya, ia diminta melingkari gunung sebagai ujian. Karena lingkarannya kurang satu jengkal, Baruklinthing menjulurkan lidahnya.
Lidah itu kemudian dipotong dan diyakini menjelma menjadi Tombak Kiai Upas.
Prosesi Ritual Jamasan Tombak Kyai Upas
Ritual jamasan ini diawali dengan kirab, yang mengiringi dayang atau putri membawa air dari 9 sumber mata air. Air tersebut kemudian dicampur dengan kembang tujuh rupa dan digunakan untuk menjamas tombak kyai upas.
Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo mengatakan kegiatan ini merupakan tradisi yang dilakukan setiap tahun. Selain melestarikan tradisi, jamasan ini juga bertujuan untuk membersihkan karat yang ada pada bagian mata tombak.
Ritual ini juga menjadi salah satu agenda budaya yang digelar setiap tahun. β Ini juga merupakan bentuk syukur kami semua kegiatan berjalan lancar,β ujarnya, Jumat, 11 Juli 2025.
Jamasan ini juga memiliki makna tolak bala. Melalui ritual ini diharapkan masyarakat terjauh dari segala marabahaya. Pemerintahan juga bisa berjalan lancar tanpa ada kendala. βSemoga kita selalu diberi kelancaran, dijauhkan dari marabahaya, β tuturnya.
Ritual jamasan ini sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2019 lalu. Melalui kegiatan ini Heru berharap ritual ini tetap digelar sebagai bentuk pelestarian terhadap tradisi yang sudah ada. βIni merupakan tanggung jawab pemerintah untuk melestarikan tradisi jamasan tombak kyai upas, terlebih tombak ini merupakan pusaka Kabupaten Tulungagung,β pungkasnya. [*]
Editor: Sarno Kenes
