BPBD Catat 41 Longsor dan 37 Banjir, Balong dan Slahung Terparah
Panselanews.com [PONOROGO] – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat sebanyak 85 kejadian bencana alam melanda Kabupaten Ponorogo sepanjang 1 Januari hingga 30 April 2025. Bencana tanah longsor mendominasi dengan 41 kejadian, diikuti banjir sebanyak 37 kejadian, dan cuaca ekstrem sebanyak 7 kejadian. Data ini menunjukkan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di wilayah ini, terutama akibat curah hujan tinggi.
Kecamatan Balong menjadi wilayah dengan kasus banjir tertinggi, mencatat 14 kejadian, terutama di desa-desa dekat bantaran sungai. Sementara itu, Kecamatan Slahung menjadi pusat kejadian tanah longsor dengan 11 kasus dan 1 banjir, diikuti Kecamatan Ngrayun dengan 9 longsor dan 1 banjir. Kecamatan Bungkal melaporkan 9 banjir dan 2 longsor, sedangkan Kecamatan Ngebel mencatat 8 longsor dan 2 cuaca ekstrem.
Wilayah lain seperti Kecamatan Pulung (3 longsor, 1 cuaca ekstrem), Sawoo (2 longsor, 1 banjir), Sooko (3 longsor), Sambit (1 longsor, 1 banjir), dan Ponorogo Kota (2 banjir) juga terdampak. Kecamatan Jetis, Siman, Jambon, dan Kauman masing-masing mencatat 1 hingga 3 kejadian banjir, menunjukkan sebaran bencana yang cukup luas di Ponorogo.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, S.Pt. M.P. M.A. M. Ec. Dev., mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah perbukitan seperti Slahung, Ngrayun, dan Ngebel, serta daerah rawan banjir seperti Balong dan Bungkal. “Kami terus memperkuat langkah mitigasi, seperti pemasangan alat peringatan dini longsor (LEWS) dan koordinasi dengan pemerintah desa,” ujar Masun.
BPBD juga menyiagakan tim reaksi cepat dan relawan lokal untuk merespons potensi bencana, terutama di musim pancaroba yang rawan cuaca ekstrem. Masyarakat diminta memantau prakiraan cuaca dari BMKG dan melaporkan potensi bahaya ke posko BPBD setempat. Langkah preventif seperti pembersihan saluran air dan penghijauan di daerah perbukitan juga dianjurkan untuk meminimalkan risiko banjir dan longsor.
Hingga kini, BPBD masih melakukan pendataan dampak kerugian dan kebutuhan mendesak, seperti logistik dan perlengkapan pengungsian. Masyarakat diimbau untuk tidak panik, tetapi tetap siaga menghadapi potensi bencana susulan, terutama di wilayah rawan.(*)
Editor: Tri Wahyudi










