PanselaNews.com [Makkah] – Kota Makkah saat ini sedang berada pada suhu belasan derajat Celsius, memberikan suasana dingin yang kontras dengan cuaca panas pada pertengahan tahun. Di tengah malam yang sejuk di sekitar Masjidil Haram, suara hentakan kursi roda memecah keheningan malam saat Mohammad Alif Daffa, seorang penyandang disabilitas, melaksanakan rangkaian ibadah umrah. Didampingi ayahnya, Ahmad Luthfi, mereka mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali dengan khusyuk, mengucapkan talbiyah menuju Sang Pencipta.
Ahmad Luthfi dengan penuh kasih sayang mendorong kursi roda putranya, memastikan bahwa Alif bisa menjalani ibadah dengan nyaman jauh dari kerumunan jamaah lainnya. Momen tersebut melekat di hati Ahmad ketika mengenang almarhumah istrinya, Nurina Mulkywati, yang meninggal pada tahun 2019. Dalam setiap putaran di sekitar Ka’bah, air mata bahagia Ahmad mengalir, memanjatkan doa untuk almarhumah istri serta keluarga yang ditinggalkan.
“Saat melewati Hajar Aswad, saya merasa hanya ada rasa syukur dan cinta pada Allah dan Abang,” ujar Ahmad dengan tegas. Meski harus mendorong kursi roda di lantai dua Masjidil Haram yang lebih jauh, ia tidak merasakan lelah, karena cinta dan dedikasinya melebihi segala batas.

Tujuh kali perjalanan Sa’i dari Bukit Safa ke Marwah juga dilalui dengan lapang dada, di tengah keramaian jamaah haji lainnya. Ibadah umrah mereka diakhiri dengan momen Tahalul, ketika Ahmad memotong sebagian rambut Alif sebagai simbol penyelesaian ibadah.
Baca juga : Ahmad Luthfi Ziarah Makam Mbah Moen di Ma’la Makkah Usai Umrah
Kegiatan mereka tidak berhenti di Masjidil Haram saja, Ahmad juga menemani putranya ke Raudhah di Madinah—tempat yang dikenal mustajab untuk menghamburkan doa. Momen berharga ini merupakan wujud dari penugasan terakhir istrinya untuk menjaga dan membesarkan Abang sebagai amanah.
“Bapak Disabilitas” ini menyampaikan bahwa sekalipun memikul tanggung jawab sebagai mantan Kapolda Jateng dan calon gubernur untuk Pilgub 2024, prioritas utamanya tetaplah keluarga. Abang, sang putra, memiliki pemahaman yang luar biasa dan selalu mendukung keberadaan ayahnya di tengah kesibukan.
Selama delapan hari di Tanah Suci, Ahmad Luthfi menjadi teladan bagi para laki-laki di Jawa Tengah—mencerminkan cinta abadi seorang ayah yang tak mengenal batas.(*)
Editor : Tri Wahyudi









