Warisan Tumenggung Jagakarya Abadikan Sejarah di Senin Legi
Panselanews.com [PACITAN] – Festival Bumi Banaran di Desa Cemeng, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, kembali digelar meriah dengan tradisi adu kelapa Sangkan Paraning Dumadi pada Senin Legi bulan Longkang. Acara tahunan ini menghidupkan sejarah Tumenggung Jagakarya dari Keraton Surakarta Hadiningrat, yang mengganti nama Desa Banaran menjadi Desa Cemeng pada 1825, pasca-Perang Diponegoro.

Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji turut memeriahkan acara dengan ikut adu kelapa, disambut sorak sorai warga. (Foto: Suwito Amy/ PNN)
Menurut Agus Winarno S.IP, Ketua Laskar Bumi Banaran, tradisi ini berawal dari kunjungan Tumenggung Jagakarya ke Dusun Singkil, didampingi Ki Reto Gati, Bekel Trenggono, dan Nyi Gendamsari. Warga menyambut dengan hasil bumi dan air kelapa. Saat Jagakarya dan Bekel Trenggono mengadu dua kelapa hingga pecah, asap hitam (cemeng) dan putih (kemukus) muncul, menjadi cikal bakal nama Desa Cemeng dan Kemukus. Jagakarya lantas memerintahkan peringatan tahunan dengan adu kelapa dan wayang kulit setiap Senin Legi bulan Longkang untuk menjaga warisan budaya.
Festival ini tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga menarik wisatawan untuk menyaksikan kirab budaya dan potensi lokal Desa Cemeng, seperti makam kuno di Dusun Petung dan Goa Songlidah. Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji turut memeriahkan acara dengan ikut adu kelapa, disambut sorak sorai warga.
Acara ini memperkuat identitas budaya Pacitan sekaligus mengedukasi generasi muda tentang sejarah desa. Masyarakat diajak menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah modernisasi.
Editor: Tri Wahyudi









