PanselaNews.com, Tasikmalaya – Gua Safarwadi di Pamijahan, Tasikmalaya, Jawa Barat, tengah menjadi perbincangan hangat setelah viral sebagai jalan menuju Mekkah. Kepercayaan ini menarik banyak peziarah yang ingin berdoa sekaligus menapaktilasi perjalanan Syeikh Abdul Muhyi, seorang penyebar tarekat Syattariyah di Tanah Pasundan.
Gua yang memiliki panjang 284 meter ini memiliki dua pintu yang menghubungkan Kampung Pamijahan dan Kampung Panyalahan. Beberapa bagian di dalamnya diyakini memiliki jalur mistis yang mengarah ke berbagai tempat, termasuk Cirebon, Banten, Surabaya, hingga Mekkah.
Namun, sesepuh Pamijahan, KH. Endang Ajidin, menegaskan bahwa secara faktual gua ini tidak benar-benar menuju Mekkah. “Lubang-lubang di dalam gua hanyalah bagian dari cerita turun-temurun yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah,” ujarnya.
Sebelumnya, salah satu lubang dalam gua ini sempat ditutup setelah seorang pemuka agama tersesat saat mencoba melewatinya. Kini, gua tetap dibuka untuk keperluan ziarah, tetapi dengan larangan bagi peziarah untuk memasuki lubang-lubang tertentu.
Menanggapi fenomena ini, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, menekankan perlunya dakwah pencerahan. “Masyarakat tidak boleh mudah mempercayai hal-hal di luar nalar sehat,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap hal mistik masih kuat, sehingga cerita-cerita yang tidak rasional sering diterima sebagai kebenaran.
Baca juga: Muhammadiyah Tetapkan Jadwal Puasa dan Idulfitri 1446 H: Ini Tanggal Pentingnya!
“Dakwah pencerahan harus dilakukan melalui penjelasan terhadap teks suci, baik secara bayani (tekstual), burhani (rasional), maupun irfani (spiritual),” lanjutnya. Pendidikan berbasis penguatan nalar di sekolah-sekolah juga perlu ditekankan agar generasi mendatang mampu membedakan antara yang realistis dan yang tidak.
Fenomena Gua Safarwadi menunjukkan bagaimana tradisi dan kepercayaan masih memiliki pengaruh besar dalam masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan dakwah dan pendidikan yang berimbang agar spiritualitas tetap terjaga tanpa mengabaikan rasionalitas.
Sumber: muhammadiyah.or.id









