Pemilik ‘Krisna Bali’, Gusti Ngurah Anom didampingi Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, survei potensi wisata di Trenggalek, Jumat, 9 Mei 2025
PanselaNews.com [TRENGGALEK] – Anggota DPR RI, Komisi VII, Novita Hardini, mengundang pemilik pusat oleh-oleh Krisna Bali, Gusti Ngurah Anom atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Ajik Krisna berkunjung ke Trenggalek untuk melihat potensi pariwisata Trenggalek sekaligus diminta saran dan masukannya.
Banyak hal yang di dapat oleh pengusaha asal pulau dewata itu untuk memberikan saran masukan beberapa potensi wisata kepada Bupati Trenggalek.
“Saya di undang oleh ibu DPR RI dan saya baru tahu Ibu Novita Hardini, suaminya adalah Bupati Trenggalek. Diundang, kemarin datang dan sampai Trenggalek sore,” kata Gusti Ngurah Anom, di Pantai Mutiara Trenggalek, Jum’at, 9 Mei 2025.
Kita sempat survey lokasi di eks terminal, sambung Ajik “Dan itu harapan pak bupati inginnya dijadikan menjadi rest area, itu di hari pertama. Di hari kedua sudah ada beberapa tempat yang kita survey. Kita sempat ke air terjun dan terakhir kita di Pantai Mutiara Trenggalek,” imbuhnya.
“Dan yang paling penting adalah, saya tadi sudah pesan kerajinan tangan dari UMKMĀ dari Trenggalek. Tadi saya pesan 300 pcs, dan tumbler bambu 100 pcs. Ini baru permulaan. Begitu saya promosikan di Bali dan ternyata peminatnya banyak, terus harganya bersaing, tidak menutup kemungkinan saya akan mempromosikan produk UMKM dari Bambu yang khas Trenggalek,” ungkapnya
Melihat pariwisata di sini saya melihat beberapa tempat tadi. Yang sangat luas Pantai Prigi 360, itu sebenarnya sangat bagus sekali. Tinggal konsepnya perlu diperbaiki.
Saya sudah ngobrol banyak dengan pak bupati. Semoga pak bupati cepat eksekusi.
Saya tadi kasih masukan, contohnya dimana orang masuk tidak usah dikenakan biaya masuk, cukup parkir Bus. Karena kalau bicara Bali, saya bicara Bali ya di tempat saya dulu, air terjun cukup bayar tiket air terjun Rp. 15.000 tanpa kena parkir lagi. Kalau di sini menurut saya bagaimana UMKM lebih menggeliat lagi.
Saya melihat sosok bapak bupati di Trenggalek sangat humble. Karakternya tidak jauh seperti saya. Mungkin beliau pasti berhasil memimpin Trenggalek ini.
Ditanya masukannya untuk pengembangan industrialisasi pariwisata di Trenggalek, pengusaha oleh-oleh Krisna Bali itu menambahkan, Karena saya baru pertama kali ke Trenggalek, tentunya tidak bisa memutuskan langsung 100% dengan bangun langsung rest area atau seperti apa. Saya bilang ke pak bupati, kalau mau bikin rest area, mungkin step by step biar investasinya tidak terlalu besar. step by step kita maksimalkan yang sudah ada dan tingal di tata ulang sedikit-sedikit.
Kedua kalau melihat pantainya, sangat bagus sekali. Kemudian saya minta kepada staf-staf pak bupati, Kepala Dinas Pariwisata, minta data kunjungan pariwisata tiap hari selama 1 bulan. Bila saya diberi data itu setiap hari, yang benar-benar riil, maka saya bisa membantu ide-ide apa yang bisa dikembangkan di pariwisata di sini.
Mungkin tadi saya dengar dari Kadis Pariwisata, Pantai Mutiara ini kalau Sabtu-Minggu penuh. Saya akan lihat selama satu, dua minggu kedepan, kalau Sabtu ini penuh tidak ngedrop kunjungan, saya akan mencoba produk Krisna yang best seller akan kita jual di sini. Siapa tahu dengan ada produk-produk Krisna yang di sini ada daya tarik untuk destinasi wisata ini.
Siapa tahu yang tadinya Senin-Jumat tidak seramai Sabtu dan Minggu menjadi daya tarik karena di sini sudah ada produk-produk Krisna. Itu pakai memancing. Tapi kalau setiap hari sudah penuh ya beda cerita. Saya bisa pakai mobile dulu di sini. Sabtu-Minggu bisa kita pakai mobil dari Jogja ke sini. Kita pakai kaya kontainer itu ada produk Krisna by Trenggalek.
“Kita lihat ini selama enam bulan. Semoga menjadi daya tarik, ternyata di Pantai Mutiara Trenggalek itu ada produk Krisna. Ternyata ini ramai Senin-Jumat bisa seperti Sabtu-Minggu, tidak menutup kemungkinan Krisna akan berinvestasi di sini,” ujarnya.
Bukan membawa nama Krisna, saya akan membantu UMKM di sini. 20% produk dari Krisna, 80% produk UMKM yang ada di sini. Kan tidak mungkin kalau produk saya laku di sini, tidak mungkin saya bawa produk dari luar. Kalau seperti itu Trenggalek sama dengan dapat sampahnya saja.
“Semangatnya saya di undang di sini, bagaimana saya membantu para UMKM aga ekonominya membaik,” tandas Ajik.









