PanselaNews.com, Jakarta – Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Indonesia kembali merayakan tradisi Munggahan yang penuh makna! Diadakan satu atau dua hari sebelum Ramadan, Munggahan menjadi momen yang dinanti-nantikan sebagai bentuk persiapan spiritual dan sosial. Masyarakat berbondong-bondong untuk merayakan tradisi ini dengan beragam kegiatan yang mengedepankan nilai-nilai keagamaan.
“Munggahan berasal dari bahasa Sunda ‘unggah’ yang berarti naik,” jelas Irmayani saat berbincang bersama Pro3 RRI pada Minggu (23/2/2025). Makna dari tradisi ini adalah “naik” ke bulan yang lebih suci, penuh berkah, dan kesempatan untuk memperbaiki diri dalam ajaran Islam.
Dari makan bersama keluarga, berziarah ke makam leluhur, hingga saling meminta maaf, Munggahan menjadi momen indah untuk mempererat tali silaturahmi. Ditambah lagi, banyak yang juga mengadakan pengajian atau doa bersama untuk mempersiapkan diri menyambut bulan penuh berkah ini.
Dengan Ramadan yang diperkirakan jatuh pada 1 Maret 2025, Munggahan tahun ini dijadwalkan berlangsung pada 27-28 Februari. Suasana kekeluargaan dan kebersamaan semakin terasa saat masyarakat menjalani tradisi ini dengan antusias.
Seiring berjalannya waktu, tradisi Munggahan tidak hanya dilestarikan oleh kalangan tua, tetapi juga oleh generasi muda. Nilai-nilai kebersamaan, kedermawanan, dan persiapan spiritual tetap dijaga meski dunia terus berubah.
Baca juga: Jelang Ramadhan, Polisi Incar Perjudian dan Peredaran Miras di Wonogiri
Munggahan bukan sekadar perayaan, tetapi juga pengingat akan pentingnya persiapan lahir dan batin dalam menyongsong bulan yang suci. Semoga, dengan semangat Munggahan, kita semua dapat menjalani Ramadan dengan lebih baik, penuh rasa syukur dan keberkahan.
Sumber: RRI









