Menu

Mode Gelap
Breaking News: Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat, AKBP B Disanksi PTDH BREAKING NEWS! Telah Dibuka Penerimaan Bintara Brimob Polri TA 2026, Ini Syaratnya BREAKING NEWS: KPK Resmi Tahan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Hearing Soal Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup Puluhan Massa MPKB Tolak Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup

UMUM · 6 Des 2025 19:29 WIB

Siapa Raden Ayu Tan Peng Nio, “Mulan van Java” Itu?


					Raden Ayu Tan Peng Nio. (Foto: Istimewa) Perbesar

Raden Ayu Tan Peng Nio. (Foto: Istimewa)

Kisah Pendekar Perempuan Tionghoa yang Tak Kenal Takut Melawan VOC di Geger Pecinan.

PanselaNews.com [WONOGIRI] – Dalam narasi besar sejarah kolonial Indonesia, nama-nama pahlawan seperti Pangeran Diponegoro atau Sultan Hasanuddin mendominasi. Namun, ada sosok lain yang perjuangannya tak kalah heroik, namun kerap terabaikan. Dia adalah seorang perempuan, seorang bangsawan Tionghoa, yang oleh beberapa sastrawan dijuluki “Mulan van Java”Raden Ayu Tan Peng Nio.

Kisahnya bermula dari tragedi berdarah tahun 1740, yang dikenal sebagai Geger Pecinan. Saat itu, VOC (Kompeni Belanda) melakukan pembantaian massal terhadap etnis Tionghoa di Batavia. Dalam pelarian dari huru-hara itu, Tan Peng Nio—putri seorang jenderal dari Tiongkok—memilih jalan yang tak biasa: melawan.

Menyamar di Medan Laga, Menjadi Momok bagi Kompeni

Berbekal ilmu bela diri tinggi yang diwarisi dari ayahnya dan disempurnakan oleh sahabatnya, Lia Beeng Goe, Tan Peng Nio mengambil keputusan berani. Ia menyamar menjadi seorang prajurit laki-laki dan menyusup ke dalam barisan perlawanan gabungan Tionghoa-Jawa yang dipimpin oleh Raden Mas Garendi (Sunan Kuning).

BACA JUGA  Polda Jateng Sediakan Layanan Kesehatan Gratis, Target Layani 4000 Pengemudi Ojol

Di medan pertempuran, prajurit baru yang misterius ini langsung mencuri perhatian. Ia bergerak lincah dan mematikan. Keahliannya mengayun pedang dan ilmu kesaktiannya dikisahkan berhasil memporak-porandakan formasi serdadu VOC. Surat-surat rahasia Belanda pada masa itu menyebutkan kebingungan dan frustrasi mereka terhadap sosok panglima muda tak dikenal yang selalu muncul di garis depan.

“Dalam setiap pertempuran, sosok ‘prajurit baru’ ini selalu bergerak lincah dan mematikan… membuat serdadu Belanda kebingungan akan keberadaan sosok panglima muda yang misterius ini,” tulis seorang saksi mata, seperti dikutip dari berbagai catatan sejarah.

Persekutuan Sakti dengan Bangsawan Jawa

Api perlawanan Tan Peng Nio membawanya hingga ke Jawa Tengah. Di sinilah terjadi pertemuan bersejarah dengan Sulaiman Kertowongso, yang kelak menjadi KRT Kolopaking III, seorang pemimpin militer Jawa yang juga gigih melawan VOC.

BACA JUGA  Kecelakaan Maut Elf di Tawangmangu, 5 Wisatawan Bojonegoro Tewas

Pertemuan mereka awalnya diwarnai ketegangan. Babad setempat menceritakan pertarungan dan uji kesaktian sengit antara keduanya di Kutowinangun, yang konon menyebabkan pohon-pohon jati bertumbangan dan melintang—menjadi asal-usul nama Desa Jatimalang. Namun, dari konflik itu lahirlah rasa saling hormat. Keduanya kemudian memutuskan untuk bersekutu, menyatukan kekuatan pasukan Tionghoa dan Jawa melawan musuh bersama: penjajah Belanda.

Persekutuan ini diperkuat oleh ikatan yang lebih personal. Tan Peng Nio kemudian menikah dengan KRT Kolopaking III. Pernikahan ini bukan sekadar urusan rumah tangga, melainkan menjadi simbol nyata harmoni dan persatuan antar etnis dan kelas dalam melawan kolonialisme. Ia pun kemudian lebih dikenal dengan nama Raden Ayu Tan Peng Nio.

Warisan Abadi di Tengah Hamparan Sawah Kebumen

Meskipun Perang Geger Pecinan secara resmi berakhir dengan Perjanjian Giyanti pada 1755, semangat Raden Ayu Tan Peng Nio tidak pernah padam. Ia menghabiskan sisa hidupnya di Kutowinangun, Kebumen, mendidik anak-anaknya, dan meninggalkan jejak budaya yang kuat.

BACA JUGA  Peringatan HUT APKASI Ke-24 di Trenggalek, Mas Ipin: 35 Bupati Terkonfirmasi Hadir

Saat ini, makamnya dapat ditemui di tengah hamparan sawah yang hijau di Desa Jatimulyo, Kecamatan Alian, Kebumen. Makam dengan arsitektur khas Tionghoa itu berdiri sebagai monumen bisu yang berbicara lantang. Ia adalah pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan Nusantara adalah perjuangan kolektif yang melibatkan semua ras, etnis, dan gender.

Kisah Raden Ayu Tan Peng Nio, sang “Mulan van Java”, melampaui dongeng. Ia adalah bukti sejarah nyata tentang keberanian perempuan, solidaritas antarbangsa, dan perlawanan tanpa kompromi terhadap ketidakadilan. Ia adalah pahlawan yang darinya kita bisa belajar: bahwa nasib tidak harus diterima, tetapi bisa dilawan, bahkan oleh seorang perempuan yang menyamar di dunia yang dikuasai pria.

*Sumber tulisan merujuk pada Babad dan Silsilah Trah Kolopaking serta Kajian Historis Perang Geger Pacinan (1740-1743).*

Penulis

Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Tamu se-Nusantara Dibikin Ketagihan Kuliner Jawa Tengah

12 September 2026 - 15:11 WIB

Menag RI Puji Kesiapan Jateng Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional

12 September 2026 - 14:47 WIB

MTQ Nasional di Jateng Jadi Momen Pulang ke “Rumah Kedua” Gubernur Kaltara

12 September 2026 - 06:57 WIB

Menag Nasaruddin Umar: Jadikan Al-Qur’an sebagai “Living Qur’an”

11 September 2026 - 20:07 WIB

Olahraga Pagi Sambil Cek Kesehatan Gratis, Biddokkes Polda Jateng Layani 150 Warga di Lapangan Sidodadi

11 September 2026 - 11:11 WIB

6 Anggota Polres Trenggalek Siap Lepas Masa Lajang

11 September 2026 - 07:25 WIB

Trending di Berita Terkini