PanselaNews.com, Semarang – Tim Transisi Pemerintahan Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen menekankan pentingnya revitalisasi peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Tengah ke depannya. Program-program BUMD diharapkan tidak hanya memiliki nilai bisnis, tetapi juga mampu menyentuh kebutuhan masyarakat secara langsung.
Pembina Tim Transisi sekaligus mantan Sekretaris Daerah Pemprov Jateng, Prof Sri Puryono, menjelaskan bahwa Cagub dan Cawagub terpilih ingin meninggalkan warisan program yang bermanfaat bagi Jateng dalam jangka panjang. Hal ini terungkap usai pertemuan Tim Transisi dengan sembilan BUMD di Jateng.
“Pak Gub dan Pak Wagub terpilih ingin membuat legacy yang baik untuk Jateng. Wilayah bebas korupsi dan BUMD sepakat,” ujar Sri Puryono.
Dalam pertemuan tersebut, Tim Transisi menegaskan bahwa BUMD perlu melakukan revitalisasi diri, sesuai dengan visi dan program Ahmad Luthfi dan Taj Yasin. Proses ini memerlukan inovasi dan kreativitas, namun tetap mengutamakan kinerja yang cermat dan sesuai administrasi.
Salah satu program yang diusulkan adalah menjaga stabilitas harga produk pertanian. BUMD diharapkan dapat berperan aktif menampung hasil panen raya agar harga tidak anjlok, sehingga petani tidak mengalami kerugian. “Bagaimana mengawetkan hasil panen buah atau sayuran misalnya. Jadi pas panen raya tidak dibuang karena harga jatuh,” tandasnya.
Akademisi Universitas Diponegoro, Dr Wahid Abdurrahman, menilai langkah Tim Transisi mencerminkan model baru kepemimpinan daerah. Biasanya, kepala daerah baru baru bekerja setelah pelantikan. Namun, Luthfi-Yasin sudah mempersiapkan program sebelumnya, sehingga bisa langsung dieksekusi setelah pelantikan.
Baca juga: Tim Transisi Paslon Luthfi-Yasin Sinergikan Program dengan OPD dan BUMD Jateng
“Apa yang dilakukan kepala daerah di 35 hari pertama kebanyakan baru adaptasi. Pak Luthfi dan Gus Yasin memajukan proses belanja masalah itu, sehingga nanti langsung kerja,” ujar Wahid.
Di sisi lain, Tim Transisi juga menghadapi tantangan dengan APBD Jateng yang minim. Untuk mengatasi hal ini, tiga langkah strategis dilakukan, yaitu: memaksimalkan skema pendanaan APBN, menggali potensi investasi atau CSR dari swasta, serta melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan program melalui collaborative governance.
“Kekurangan Pemprov Jateng sebelumnya adalah kurang mampu mengonsolidasikan CSR untuk program pembangunan. Pak Gub punya kemampuan dan pengalaman untuk itu,” jelas Wahid.
Ketua Tim Transisi, Dr Zulkifli Gayo, menjelaskan bahwa pihaknya telah menggelar rapat maraton dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan BUMD pada 6-7 serta 10-11 Februari. Rapat ini bertujuan untuk mensinergikan program Pemprov Jateng ke depan sesuai visi misi Ahmad Luthfi dan Taj Yasin.
“Sinergikan program-program. Khusus OPD, kita juga ngecek program yang sudah ada dan sejauh apa akan menunjang visi misi,” kata Zulkifli.
Dengan pendekatan baru ini, Pemerintah Jateng diharapkan mampu menjawab tantangan pembangunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.(*)









