Jumat, 6 November 2026
Breaking
Berita Terkini

BGN Uji Coba MBG Prasmanan, Makanan Dibawa Hangat ke Kelas

11 Oktober 2026 · panselanews

Para Siswa-siswi SMP Kemala Bhayangkari 3 saat mencicipi aneka hidangan secara prasmanan dalam kegiatan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Jakarta, Rabu (10/08/2026). FOTO: Badan Gizi Nasional

PanselaNews.com [JAKARTA] – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji model baru penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di sekolah. Dalam skema tersebut, makanan yang telah dimasak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dibawa dalam kondisi hangat ke ruang kelas untuk kemudian disajikan kepada siswa.

Model yang dikembangkan dengan konsep central kitchen itu kini telah diuji coba di lebih dari 60 dapur. BGN menyebut pola tersebut dipelajari dari sistem penyelenggaraan makan di sekolah yang diterapkan di Jepang.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, uji coba dilakukan untuk melihat efektivitas sistem prasmanan dalam menjaga kualitas makanan sekaligus memangkas jeda waktu antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi penerima manfaat.

“Per hari ini, di tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas,” ujar Sudaryono yang akrab disapa Mas Dar, Senin (5/10/2026).

Menurutnya, penyajian langsung di kelas membuat makanan dapat dikonsumsi dalam kondisi lebih hangat dan segar. Berkurangnya waktu tunggu juga diharapkan dapat menekan risiko kerusakan makanan.

“Kita harapkan satu, makanannya lebih enak karena hangat-hangat. Yang kedua, tentu saja lebih fresh karena tidak ada delay waktu. Sehingga mengurangi risiko kerusakan makanan yang kemudian menimbulkan gangguan kesehatan,” jelasnya.

Selain kualitas makanan, sistem prasmanan juga dinilai dapat menekan jumlah makanan yang terbuang. Siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhannya, sedangkan makanan yang masih tersedia dapat diambil kembali oleh penerima manfaat lainnya.

“Sejauh ini tadi saya dapat laporan, tingkat kehabisan makanannya bagus. Jadi lebih fresh, kemudian ada yang mungkin mau nambah, masih ada sisa bisa nambah. Dan waste-nya lebih sedikit karena prasmanan,” kata Mas Dar.

BGN juga melihat sistem tersebut sebagai bagian dari proses edukasi di sekolah. Penyajian makanan tidak hanya diposisikan sebagai proses pembagian makanan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk membiasakan siswa dengan tata cara makan dan pengelolaan makanan secara tertib.

Dalam penerapannya, sekolah memiliki peran penting untuk memastikan proses penyajian berjalan sesuai standar. Siswa juga dapat dilibatkan secara terjadwal dalam proses pelayanan dengan tetap memperhatikan kebersihan dan penggunaan perlengkapan yang sesuai.

Mas Dar mengatakan penerapan model prasmanan membutuhkan kesiapan dari SPPG maupun sekolah. Karena itu, pelatihan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan sebelum sistem tersebut diterapkan secara lebih luas.

“Kalau prasmanan ini memang, kalau sudah terbiasa akan bagus, sama seperti di negara lain. Cuman memang perlu ada training yang cukup,” ungkapnya.

Konsep tersebut memiliki kemiripan dengan praktik penyelenggaraan makan di sekolah di Jepang yang menggabungkan kegiatan makan dengan pembelajaran. BGN sebelumnya juga mempelajari penyelenggaraan program makan di sejumlah negara untuk memperoleh praktik yang dapat disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

Saat ini, BGN masih melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan uji coba di berbagai wilayah. Evaluasi tersebut mencakup kesiapan dapur, sekolah, sumber daya manusia, serta kondisi penerima manfaat.

Hasil evaluasi nantinya akan menjadi pertimbangan BGN dalam menentukan apakah model penyajian prasmanan tersebut dapat dikembangkan secara lebih luas dalam pelaksanaan Program MBG. (*)