Menu

Mode Gelap
Breaking News: Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat, AKBP B Disanksi PTDH BREAKING NEWS! Telah Dibuka Penerimaan Bintara Brimob Polri TA 2026, Ini Syaratnya BREAKING NEWS: KPK Resmi Tahan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Hearing Soal Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup Puluhan Massa MPKB Tolak Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup

Berita Terkini · 2 Jan 2025 03:53 WIB

BRIN: Ancaman Tsunami di Selatan Jawa, Gelombang Diperkirakan Capai 20 Meter


					Mengenang 20 Tahun Tsunami Aceh, Peneliti BRIN Ajak Masyarakat Waspada Adanya Potensi Ancaman Megathrust Selatan Jawa/ Foto : BRIN Perbesar

Mengenang 20 Tahun Tsunami Aceh, Peneliti BRIN Ajak Masyarakat Waspada Adanya Potensi Ancaman Megathrust Selatan Jawa/ Foto : BRIN

PanselaNews.com [Jakarta] – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim peneliti dari berbagai institusi telah melakukan simulasi yang menunjukkan bahwa jika tsunami terjadi, ketinggian gelombang diprediksi dapat mencapai 20 meter di pesisir selatan Jawa. Selain itu, gelombang setinggi 3–15 meter juga diperkirakan terjadi di Selat Sunda, dan sekitar 1,8 meter di pesisir utara Jakarta. Penelitian ini menggarisbawahi bahwa fenomena serupa sudah pernah terjadi, salah satunya adalah tsunami Pangandaran pada tahun 2006 yang disebabkan oleh marine landslide di dekat Nusa Kambangan.

“Energi yang terkunci di zona subduksi selatan Jawa terus bertambah seiring waktu. Jika dilepaskan sekaligus, goncangan ini berpotensi memicu tsunami yang dampaknya meluas, tidak hanya di selatan Jawa tetapi juga wilayah pesisir lainnya,” kata peneliti BRIN, Rahma.

Demi meminimalkan risiko, BRIN menekankan pentingnya upaya mitigasi melalui pendekatan struktural dan non-struktural. Pendekatan struktural mencakup pembangunan tanggul penahan tsunami, pemecah ombak, serta penyusunan tata ruang di kawasan pesisir dengan memperhatikan jarak aman 250 meter dari bibir pantai. “Pembangunan hutan pesisir dan vegetasi seperti pandan laut dan mangrove juga merupakan solusi berbasis ekosistem untuk meredam energi gelombang tsunami,” imbuh Rahma.

BACA JUGA  Ahmad Luthfi Beri Karpet Merah untuk Investasi Rp 6 Triliun di Pracimantoro Wonogiri

Baca juga : Gempa Magnitudo 6,0 Guncang Tuban, Terasa Hingga Trenggalek

Sedangkan pendekatan non-struktural meliputi edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat, pelatihan simulasi evakuasi, serta penyediaan jalur dan lokasi evakuasi yang memadai. Rahma menjelaskan, “Kita harus memastikan masyarakat memahami potensi bahaya tsunami, pentingnya sistem peringatan dini yang efektif, serta kemampuan merespons dengan cepat.”

Di kawasan urban seperti Jakarta, yang memiliki padat penduduk dan sedimen tanah yang rentan, upaya mitigasi juga menyasar pada retrofitting bangunan. “Retrofitting penting dilakukan, terutama di kawasan padat penduduk, untuk menghindari kerusakan masif akibat guncangan kuat,” jelasnya lebih lanjut.

BACA JUGA  Ops Lilin Candi 2025 Telah Berakhir, Polda Jateng Terapkan KRYD

Dalam konteks industri, khususnya di Cilegon, ada potensi kebakaran akibat kebocoran bahan bakar atau bahan kimia saat terjadi gempa. Hal ini menjadi perhatian serius yang perlu diantisipasi melalui penerapan standar keamanan yang ketat.

Rahma mencatat bahwa penelitian paleotsunami menunjukkan bahwa gempa megathrust di selatan Jawa memiliki periode ulang sekitar 400–600 tahun, dengan kejadian terakhir diperkirakan terjadi pada tahun 1699. Oleh karena itu, energi yang tersimpan saat ini berada pada titik kritis. “Bencana seperti tsunami Aceh mengajarkan kita bahwa kesiapsiagaan dan mitigasi bencana sangat penting,” tegasnya.

BRIN juga aktif berkolaborasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), BMKG, dan institusi lain untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami, terutama di Selat Sunda dan pesisir selatan Jawa. “Salah satu langkah yang diambil adalah pemasangan sensor deteksi perubahan muka air laut di daerah rawan tsunami,” tambah Rahma.

BACA JUGA  Sedang Nyabu di Kamar Hotel, Seorang Pria Ditangkap Polisi Wonogiri

Peringatan 20 tahun tsunami Aceh menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang potensi bencana serupa di masa depan. Dengan dukungan riset dan teknologi, BRIN berharap mitigasi bencana bisa dilakukan dengan lebih sistematis dan efektif. “Kita tidak bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi, namun kita dapat mempersiapkan diri. Adaptasi, edukasi, dan kolaborasi adalah kunci untuk mengurangi risiko bencana,” pungkasnya.

Dengan langkah-langkah mitigasi yang komprehensif, diharapkan Indonesia dapat menghadapi potensi gempa megathrust dan tsunami di masa mendatang, serta meminimalkan dampak kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan. (*)

Sumber : https://brin.go.id/

Editor : Tri Wahyudi

Penulis

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Polres Wonogiri Perkuat Sinergitas Penyidik Polri dan PPNS Dalam Rakor Korwas 2026

2 Juni 2026 - 06:37 WIB

Ribuan Lampion Terangi Langit Borobudur Saat Perayaan Waisak

1 Juni 2026 - 21:24 WIB

Polres Wonogiri Gelar Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Teguhkan Komitmen Terhadap Nilai-nilai Kebangsaan

1 Juni 2026 - 17:59 WIB

Perbaikan Jalan Randublatung-Cepu Masuk Tahap Lelang

1 Juni 2026 - 16:46 WIB

Kapolres Trenggalek Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila, Teguhkan Komitmen Kebangsaan

1 Juni 2026 - 11:53 WIB

Peringati Hari Lahir Pancasila, Pegawai di Lingkup Sekda Trenggalek Gelar Upacara

1 Juni 2026 - 10:22 WIB

Trending di Berita Terkini