Menu

Mode Gelap
Breaking News: Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat, AKBP B Disanksi PTDH BREAKING NEWS! Telah Dibuka Penerimaan Bintara Brimob Polri TA 2026, Ini Syaratnya BREAKING NEWS: KPK Resmi Tahan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Hearing Soal Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup Puluhan Massa MPKB Tolak Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup

Berita Terkini · 7 Feb 2025 21:37 WIB

Dukung Net Zero Carbon, Pemkab Trenggalek tanam 750 bibit mangrove di Pancer Cengkrong


					Dukung Net Zero Carbon, Pemkab Trenggalek tanam 750 bibit mangrove di Pancer Cengkrong Perbesar

Aksi konservasi mangrove di kawasan Pancer Cengkrong, Trenggalek, Jumat (7/2/2025)

PanselaNews.com,Trenggalek- Pemerintah Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, menanam 750 bibit mangrove di kawasan Pancer Cengkrong, Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo, Jumat (7/2/2025).

Sebanyak 750 bibit disiapkan untuk melestarikan Hutan Mangrove yang berada di Desa Karanggandu, Kecamatan Watulimo itu. Memilih tumbuhan ini karena Mangrove sendiri dikenal sangat baik menyimpan dan mengikat karbon di udara.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Trenggalek, Ir. Mulyahandaka, saat penanaman Mangrove  di Cengkrong membenarkan bawasannya pegawai di lingkup Setda Trenggalek melakukan penanaman Mangrove di Cengkrong. Tujuannya untuk melestarikan hutan Mangrove itu sendiri.

Mangrove dipilih karena fungsinya menyerap karbon dioksida sangat baik, kemudian menyimpannya dalam bentuk organik. “Mangrove sangat berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim,” ucap Asisten II itu.

Masih menurut Mulyahandaka Mangrove menyimpan karbon lebih efektif dari hutan lain karena  dapat menyimpan karbon hingga lima kali lebih banyak daripada hutan dataran tinggi tropis. Mangrove juga berperan dalam menyaring polutan dari air, mengendalikan aliran air, dan mengurangi erosi tanah, tandasnya.

BACA JUGA  Ini Alasan Bupati Mas Ipin Usulkan dan Sediakan Akses Transportasi dari Trenggalek ke Bandara Dhoho Kediri

Menurut Ketua Pokmaswas setempat, Mangrove di Pancer Pantai Cengkrong sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Kemudian sekitar pada tahun 2002-2003 terjadi krisis yang sangat luar biasa. Tidak ada ikan hampir 2 tahun. Masyarakat menebangi mangrove untuk menyambung hidup. Ditambah pada waktu itu belum ada aturan yang mengatur meskipun masyarakat tahu bawasannya mangrove ini tidak boleh dirusak.

Tahun 2024 masyarakat mulai merasakan akibat mangrove yang rusak. Menyesal belakangan karena banyak potensi di bawah mangrove hilang. Kepiting, kerang dan biota lainnya tidak ada. Kondisi ini membuat masyarakat merasa kehilangan.

Dibantu Dinas Perikanan dan Kelautan saat itu  sehingga terbentuklah Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas). Hal ini muncul karena banyaknya masukkan dari masyarakat. Mereka susah cari Kepiting maupun Kerang. Selain melestarikan Mangrove, kelompok ini juga bertugas mengawasi.

BACA JUGA  Air Kembali Meluap: Demi Keselamatan, Jalur KA Antara Stasiun Gubug - Stasiun Karangjati Kembali Ditutup

Dari sini hutan Mangrove di Pancer Cengkrong menjadi hijau kembali sehingga melimpah keberadaan Kerang, Siput dan juga Kepiting Bakau. Kalau digali menurut Imam Saefudin, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas di Hutan Mangrove ini “ada ratusan ton Kerang dan Kroco yang rasanya sangat enak. Ini tidak akan habis karena Mangrove-nya tumbuh dengan lestari,” tuturnya.

Imam Bonjol, anggota Pokmaswas Hutan Mangrove Cengkrong lainnya menambahkan di Hutan Mangrove yang di lestarikannya itu ada 55 jenis tanaman Mangrove. Dan di hutan Mangrove itu di dominasi tanaman Mangrove Rizophora, Sonneratia dan Api-Api.

Sedangkan untuk mangrove yang akan ditanam pegawai di lingkup Setda Trenggalek adalah jenis Rizophora. Mangrove jenis ini akan tumbuh akar dari batang yang menancap pada tanah. Mangrove jenis ini menurut Imam Bonjol sangat kuat menahan banjir dan abrasi. Bahkan akarnya menjadi filter sampah yang terbawa banjir sebelum ke laut. “Jadi peranannya sangat penting sekali,” ucap penggiat Mangrove itu.

BACA JUGA  Kapolres Wonogiri Beri Penghargaan Kepada Personil Berprestasi

Masih menurut pemuda itu, Hutan Mangrove di Trenggalek ini termasuk kedalam hutan yang jenis Mangrovenya paling lengkap di Jawa Timur. Guna mempertahankan ini, Pokmaswas di sini terus melakukan upaya pelestarian dengan melakukan pembibitan berbagai jenis Mangrove yang ada.

Dikawasan Pantai Cengkrong sendiri Hutan Mangrove ini terbentang seluas lebih dari 100 hektare. Kemudian potensi Hutan Mangrove di Trenggalek bisa diperluas karena Kecamatan Munjungan dan Panggul juga sangat berpotensi, tuturnya.

Tidak hanya keragaman biotanya saja, Hutan Mangrove juga memiliki potensi ekonomi lainnya. Diantaranya sirup, dodol, kopi, batik dari Mangrove itu sendiri. Untuk membuat sirup misalnya yang menjadi bahan bakunya dari mangrove Sonneratia Caseolaris atau Pidada Merah. Masyarakat setempat menamakan Bogem. Dari buah ini bisa dibuat sirup, dodol dan juga selai, karena bau buah ini yang harum. (Sar)

Editor: Sarno Kenes

Penulis

Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Polres Wonogiri Gelar Cek Kesehatan dan Screening TB Paru bagi Bhabinkamtibmas

3 Juni 2026 - 18:15 WIB

Kementerian Komdigi Latih Ratusan Pelaku UMKM di Wonogiri Berinovasi Dengan AI, Jadi Lokasi Pertama di Indonesia

3 Juni 2026 - 16:20 WIB

Operasi Patuh Candi 2026 Segera Digelar, Polda Jateng Fokus Tingkatkan Kesadaran dan Keselamatan Pengguna Jalan

3 Juni 2026 - 09:51 WIB

Polda Jateng Gandeng FBI Ungkap Penipuan Crypto Lintas Negara Beromzet Rp 41 Miliar, Korbannya Warga Amerika Serikat

2 Juni 2026 - 20:10 WIB

Dukung Pencegahan TBC, Polres Wonogiri dan Dinkes Gelar Pemeriksaan Kesehatan Bhabinkamtibmas

2 Juni 2026 - 19:51 WIB

Pertahankan Status Lumbung Pangan Nasional, Jateng Petakan Wilayah Rawan Kekeringan

2 Juni 2026 - 18:07 WIB

Trending di Berita Terkini