Klimatolog BRIN dan BMKG Ingatkan Potensi Bencana Hidrometeorologi
PanselaNews.com, Yogyakarta – Hujan deras melanda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Surakarta, Banjarnegara, dan sebagian besar Jawa Tengah (Jateng) pada Jumat (28/3/2025), memicu peringatan dari para ahli. Prof. Dr. Erma Yulihastin, Klimatolog dan Research Professor di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, melalui akun X @EYulihastin menyampaikan, “Update: masih merata huder di DIY, Surakarta, Banjarnegara, dan sebagian besar Jateng. Waspada banjir meluas di Jogja.” Peringatan ini menggarisbawahi risiko banjir yang kian meningkat akibat curah hujan tinggi di wilayah tersebut.
Stasiun Geofisika Kelas I Sleman, Yogyakarta, melalui akun X @bmkgjogja, juga melaporkan kondisi serupa. Mereka mencatat bahwa DIY dan Jateng diliputi awan cukup tebal dengan hujan merata yang berlangsung sejak pagi hari. Di wilayah Purwosari, Baleharjo, Wonosari, Gunungkidul, ketinggian air dilaporkan mencapai 40 cm, menambah kekhawatiran warga akan potensi banjir dan longsor. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap perkembangan cuaca ekstrem yang dapat memperburuk situasi.
Prof. Erma, yang dikenal aktif memberikan analisis cuaca melalui media sosial, menekankan pentingnya kewaspadaan di tengah kondisi iklim yang tidak menentu. Dalam cuitannya, ia mengingatkan bahwa hujan merata ini bisa memicu banjir meluas, terutama di kawasan rawan seperti Jogja dan sekitarnya. Data dari BRIN dan BMKG menunjukkan bahwa fenomena ini terkait dengan gangguan atmosfer yang meningkatkan intensitas curah hujan di musim ini, sejalan dengan perubahan iklim yang terus berlangsung.
Baca juga: AHY: Infrastruktur Nasional Harus Berbasis Risiko dan Data Ilmiah Jelang Cuaca Ekstrem
Masyarakat diimbau untuk memantau informasi resmi dari BMKG dan menjaga kesiapsiagaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan longsor. Khususnya di Gunungkidul, kondisi tanah yang jenuh air dapat memicu longsor, sehingga warga diminta menghindari aktivitas di lereng curam. Situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya adaptasi terhadap cuaca ekstrem yang kian sering terjadi di Indonesia pada tahun 2025.(*)









