Menu

Mode Gelap
Breaking News: Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat, AKBP B Disanksi PTDH BREAKING NEWS! Telah Dibuka Penerimaan Bintara Brimob Polri TA 2026, Ini Syaratnya BREAKING NEWS: KPK Resmi Tahan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Hearing Soal Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup Puluhan Massa MPKB Tolak Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup

Berita Terkini · 20 Feb 2026 18:20 WIB

Jateng Mulai Panen Raya Padi, Diperkirakan 3 Bulan Bisa Hasilkan 3,35 Juta Ton


					Jateng Mulai Panen Raya Padi, Diperkirakan 3 Bulan Bisa Hasilkan 3,35 Juta Ton Perbesar

 

 

PanselaNews.com [SEMARANG] — Provinsi Jawa Tengah memulai panen raya padi secara serentak di 35 kabupaten/ kota, periode Januari-Maret 2026.

Panen raya itu secara simbolis dipusatkan di lahan sawah Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, dan dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Jumat, 20 Februari 2026.

Diperkirakan, panen raya padi di Jawa Tengah periode Januari-Maret 2026 akan mencapai sekitar 3,35 juta ton gabah kering giling (GKG). Meningkat sebesar 413.698 ton GKG, atau sekitar 14% dari periode yang sama pada 2025 lalu. Perkiraan tersebut merupakan hasil penghitungan kerangka sampel area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah.

Gubernur Ahmad Luthfi mengatakan, arah kebijakan 2026 di Jawa Tengah adalah swasembada pangan. Target luas tanam padi untuk seluruh wilayah Jateng periode Januari—Desember 2026 sekitar 2,38 juta hektare.

BACA JUGA  Jateng Jadi Provinsi Mandiri Pangan & Energi dengan Padi Biosalin & Pentasol

Realisasi hingga 18 Februari 2026 seluas 216.098 hektare. Sementara target produksi padi Jateng 2026 sebesar 10,55 juta ton GKG atau naik 12,22% dari realisasi 2025 sebesar 9.,3 juta ton.

“Tahun 2025 kemarin kita bisa dapat kontribusi 15% untuk nasional, tahun 2026 harus lebih meningkat,” katanya, seusai mengawali panen raya, didampingi Bupati Semarang Ngesti Nugraha dan Kepala Bulog Jateng Sri Muniati.

Guna memenuhi target tersebut, Luthfi menginstruksikan kepada Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares, untuk meningkatkan konektivitas dengan 35 kabupaten/ kota. Komitmen bersama dengan seluruh bupati dan wali kota juga sudah dilakukan Januari lalu di Surakarta.

“Konektivitas dengan 35 kabupaten/ kota dalam mempertahankan lahan, mekanisasi terkait alat, serta tidak kalah pentingnya adalah Gapoktan, kita openi dari mulai pembibitan, pemupukan, sampai pascapanen,” ujarnya.

BACA JUGA  Dukung Ketahanan Pangan, Bhabinkamtibmas Gondang Polres Nganjuk Bagikan 930 Bibit Tanaman 

Sementara itu, dalam panen raya kali ini juga memperkenalkan sistem dan mekanisasi panen menggunakan mesin. Cara panen ini dikenal dengan sistem sepur, yang dapat mempersingkat waktu panen dan tanam.

“Pakai alat tadi terbukti memang lebih cepat,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, sistem sepur yang dimaksud adalah pemakaian alat panen, pengolahan sawah, dan mesin tanam dalam satu waktu.

Cara kerjanya adalah bagian depan combine harvester yang digunakan untuk panen padi. Di belakangnya berjarak 2-3 meter sudah berjalan mesin pengolah sawah, dan drone untuk menyiram cairan dekomposer jerami untuk mempercepat mengubah menjadi bahan organik. Setelah itu ada mesin race transplanter untuk tanam padi ketika lahan sudah siap.

BACA JUGA  Ratusan Bhabinkamtibmas Polres Trenggalek Ikuti Bimtek dari Polda Jatim

“Saking berurutan seperti sepur atau kereta. Ini mempersingkat waktu. Jadi panen-tanam, panen-tanam. Sistem ini untuk optimalisasi lahan. Petani di sini sudah kami latih,” katanya.

Sistem sepur ini dapat mempersingkat dan menghemat waktu dan lahan sampai sekitar 90 persen dibandingkan dengan pengolahan manual. Misal, untuk lahan seluas 2 hektare, pengolahan menggunakan sistem sepur dan alat mekanis tersebut bisa selesai dalam satu hari. Kalau menggunakan tenaga manual bisa sampai 10 hari.

“Ubinan juga sudah kami lakukan dengan ukuran 25 meter persegi, hasil rata-rata 6 ton per kotak ubinan. Jika maksimal, satu hektare bisa mencapai rata-rata 9,6 ton. Ini tergantung dengan irigasi, pemupukan, dan pembibitan juga,” jelasnya. (**)

Sumber: Humas Jateng

Penulis

Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Seorang Kakek di Tirtomoyo Wonogiri Tewas Ditabrak Mobil saat Jalan Kaki

18 Juni 2026 - 10:53 WIB

Pastikan Menu MBG Aman Dikonsumsi, Sidokkes Polres Wonogiri Lakukan Uji Food Safety di Tiga Lokasi SPPG

18 Juni 2026 - 06:51 WIB

Peduli Kesehatan Masyarakat, Bhabinkamtibmas Polsek Purwantoro Turun Lansung Dampingi Cek Kesehatan dan Tracing TBC

18 Juni 2026 - 06:36 WIB

Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Wonogiri Gelar Bakti Sosial untuk Lansia dan Pekerja Sektor Informal

17 Juni 2026 - 20:40 WIB

Polda Jateng Gelar Bakti Kesehatan Hari Bhayangkara ke-80, Hadirkan Layanan Operasi Katarak, Celah Bibir dan Lelangit Hingga Khitanan Gratis

17 Juni 2026 - 20:05 WIB

Anggota DPR RI Novita Hardini Kembali Gelar UPRINTIS Futsal League 2026, Dorong Talenta Muda Trenggalek Raih Mimpinya

17 Juni 2026 - 15:07 WIB

Trending di Berita Terkini