PanselaNews.com [SURAKARTA] – Generasi Z yang tergabung dalam komunitas I Carry Kindness menggelar kampanye kepedulian terhadap sampah plastik bertajuk “A Proper Goodbye”. Kampanye ini bertujuan untuk mengajak masyarakat lebih sadar akan dampak sampah plastik terhadap lingkungan. Serta pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Kampanye dilaksanakan selama tiga hari, yakni pada 5 sampai 7 Maret 2026. Dalam pelaksanaannya I Carry Kindness bekerja sama dengan salah satu kedai kopi di kawasan Stadion Manahan, Solo, yaitu Bahagia Bersama, sebagai lokasi penyelenggaraan kampanye.
Melalui inisiatif ini, Agios Gerasimos (23) selaku founder I Carry Kindness berupaya menjembatani penyaluran sampah. Khususnya sampah plastik agar dapat dikelola secara lebih bertanggung jawab melalui waste station terdekat.
Di saat yang sama, tim juga menghadirkan sistem sederhana di kedai kopi yang disertai edukasi bagi pengunjung untuk mulai memilah sampah mereka di tempat. Sekaligus memahami dasar-dasar penyortiran sampah yang benar.
“Melalui kampanye ini kami ingin mendorong kesadaran masyarakat untuk mulai memilah sampah sejak dari tempat mereka beraktivitas, termasuk di kedai kopi,” ujar Agios Gerasimos yang akrab dipanggil Gege.
Penyelenggara kampanye ini didukung oleh tim inti I Carry Kindness dan juga para sukarelawan. Tim inti terdiri dari Gege (23) dan Zahra (23) sedangkan dari sukarelawan ada tiga orang yakni Duta (20), Alka (22), dan Fahmi (26).
Selama tiga hari pelaksanaan kegiatan, jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan oleh tim I Carry Kindness masih bersifat variatif.
“Dari tim inti dan sukarelawan sehari bisa mengumpulkan kurang lebih 7 hingga 10 kilogram sampah. Mayoritas berupa sampah plastik dari aktivitas pengunjung kedai, jika dihitung selama tiga hari pelaksanaan, total sampah yang berhasil dikumpulkan 21 – 30 kilogram” ujar Gege.
Sampah yang terkumpul dalam tiga hari pelaksanaan kampanye A Proper Goodbye kemudian dipilah oleh tim. Lalu disalurkan kepada pihak pengumpul material yang biasa menangani sampah plastik.
Material plastik tersebut selanjutnya diteruskan ke rantai pengolahan dan daur ulang. Sehingga tidak kembali berakhir di tempat pembuangan umum.
Respon pengunjung kedai kopi terhadap kampanye ini diawali dengan rasa penasaran. Kehadiran tempat sampah berwarna merah ini juga sebagai bagian dari instalasi kampanye membuat beberapa pengunjung berhenti sejenak untuk memperhatikan dan bertanya mengenai fungsinya.
Setelah tim memberikan penjelasan mengenai gagasan di balik A Proper Goodbye, banyak pengunjung mulai memahami tujuan kegiatan. Dengan sukarela mereka ikut memilah sampahnya, di tempat.
Tim menemukan sejumlah tantangan selama pelaksanaan kegiatan. Desain instalasi tempat sampah yang dibuat secara mandiri oleh tim menggunakan material wire mesh yang mengakibatkan mudah robeknya kantong sampah saat ditarik untuk dikeluarkan. Sehingga proses pengangkutan harus dilakukan dengan lebih hati-hati.
Selain itu, bagian penutup bin masih menggunakan cable ties. Hal tersebut membuat proses pemasangan dan pembukaan membutuhkan waktu lebih lama.
Kendala tersebut menjadi catatan penting bagi tim mengingat kegiatan ini masih berada pada tahap uji coba atau pilot project. Berbagai temuan di lapangan akan menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan desain instalasi serta sistem pengelolaan sampah yang digunakan pada pengembangan kegiatan selanjutnya.
Gege mengaku pihaknya berharap proyek ini dapat berkembang menjadi sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur. Salah satu gagasan yang tengah dipertimbangkan adalah menghadirkan instalasi cup rinser dan cup collector di kedai kopi.
Sehingga pengunjung dapat secara mandiri membilas serta mengumpulkan gelas plastik mereka sebelum disalurkan ke proses pengelolaan yang lebih bertanggung jawab.
“Kita bisa melakukan lebih banyak dari ini, mungkin pada kesempatan berikutnya,” ujar Gege yang juga selaku pengarah kreatif I Carry Kindness.
Menurutnya, melalui kampanye ini masih menjadi langkah awal untuk melihat potensi pengembangan yang lebih luas di masa mendatang. Gege berharap setiap langkah kecil yang dilakukan di ruang keseharian seperti kedai kopi ini dapat membuka kesadaran bahwa pengelolaan sampah, khususnya plastik.
Pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Inisiatif serupa dapat terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak ruang publik untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan.










