PanselaNews.com [SURAKARTA] – Relasi ibu dan anak melahirkan benih-benih kebaikan dalam wujud komunitas I Carry Kindness. I Carry Kindness diprakarsai oleh sepasang anak dan ibunya, Agios Gerasimos (23) yang akrab dipanggil Gege, dan Madiyati (49).
Sang anak berperan sebagai pendiri sekaligus pengarah kreatif komunitas, sementara ibu hadir sebagai penasihat yang mengawal nilai dan keberlanjutan gerakan. Pembagian peran ini dipilih untuk memastikan tanggung jawab yang diemban dapat berjalan beriringan, alih alih bertumpu pada satu posisi yang sama.
I Carry Kindness berawal dari sebuah slogan yang lahir dalam proyek personal Gege. Slogan tersebut dimaknai sebagai upaya membawa kebaikan ke ruang ruang yang kerap terlewat dalam keseharian.
Dari gagasan tersebut, gerak nyata mulai tumbuh ketika orangtuanya dengan prakarsa sang ibu, Mardiyati (49), secara konsisten menginisiasi kegiatan berbagi makanan gratis setiap awal bulan.
“Apa yang semula berlangsung dalam lingkup keluarga perlahan menarik perhatian lingkungan sekitar dan mengundang keterlibatan pihak lain,” ujar Gege yang juga merupakan Art Director di komunitas I Carry Kindness.
Bertambahnya dukungan menghadirkan kesadaran baru bahwa kepercayaan publik menuntut tanggung jawab yang lebih dari sekadar niat baik. Donasi yang meningkat mendorong kebutuhan akan arah, tenaga, dan pengelolaan yang lebih terstruktur.
Dari proses tersebut, I Carry Kindness berkembang melampaui proyek personal. Menjelma sebagai komunitas yang digerakkan oleh kepedulian bersama serta keinginan untuk terus membawa kebaikan ke berbagai ruang.
Muncul di pertengahan tahun 2025, komunitas I Carry Kindness menjadikan Solo sebagai tempat penggagasan dan pertumbuhan awal. Berangkat dari aktivitas yang mulanya dilakukan di ruang rumah, gerakan ini perlahan merambat keluar, menyentuh ruang ruang sosial yang lebih luas dan berlapis.
Dari dapur UMKM, pasar, hingga lingkungan sekitar, dari lingkup keluarga menuju keterlibatan publik. I Carry Kindness tumbuh sebagai ikhtiar membawa kebaikan ke dalam keseharian kota.
Pada ujung perjalanannya, I Carry Kindness berdiri sebagai komunitas yang berfokus pada kampanye sosial dan kolaborasi lintas ruang. Dengan pendekatan berbasis seni dan narasi visual, komunitas ini berupaya menghadirkan gagasan kebaikan agar lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Seraya menumbuhkan kepekaan terhadap bentuk bentuk kebaikan, sekecil apa pun wujudnya.
Melalui kerja kolaboratif, kampanye diposisikan bukan semata sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai medium untuk membangun empati dan keterlibatan publik. Bertumpu pada nilai kebaikan, I Carry Kindness meyakini geraknya dapat terus menjangkau dan menyapa ruang ruang sosial lainnya.
Rekam Kegiatan I Carry Kindness Sepanjang Jalan
Eksistensi I Carry Kindness di ruang sosial hadir sebagai upaya menghadirkan jeda di tengah keseharian kota yang bergerak cepat. Hingga kini, komunitas ini telah menjalankan beragam inisiatif, mulai dari berbagi makanan gratis, mendukung perputaran dagangan UMKM, menilik dapur produksi pelaku usaha, hingga melakukan kunjungan ke panti anak dan panti jompo. Serta berbagai kolaborasi kegiatan sosial lainnya bersama komunitas lain.
Seiring praktik proyek yang kian meluas dan kebutuhan pengelolaan yang semakin kompleks, I Carry Kindness mulai melibatkan pihak lain ke dalam struktur inti komunitas. Zahra (23), bergabung sebagai pengelola relasi dan sumber daya manusia, sementara Anindya (23), mengelola aspek keuangan.
Di luar struktur tersebut, pelaksanaan proyek lapangan kerap dilakukan melalui kolaborasi dengan videografer dan fotografer lokal, sukarelawan guna keperluan operasional, serta komunitas sosial lain di wilayah Solo Raya.
Pada Desember 2025, I Carry Kindness menutup tahun melalui kegiatan walking tour bertajuk Solo Sign Tour 2025: Echoes of Kauman. Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Soerakarta Walking Tour.
Melibatkan teman tuli Solo dari Gerkatin sebagai peserta, kegiatan menerapkan rancangan tur yang menempatkan inklusivitas sebagai pendekatan utama. Sepanjang perjalanan dari Masjid Agung Surakarta hingga kawasan Kauman, narasi sejarah disampaikan secara lisan oleh storyteller dari Soerakarta Walking Tour dan secara simultan diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat oleh juru bahasa isyarat. Memungkinkan seluruh peserta mengakses cerita dalam cara komunikasi yang setara.
Dukungan donasi publik serta keterlibatan sejumlah merek sebagai sponsor makanan dan minuman turut memperkuat keberlangsungan kegiatan. Sekaligus menegaskan bahwa kolaborasi lintas pihak menjadi elemen penting dalam menghadirkan ruang sosial yang ramah bagi semua.

Walking tour komunitas I Carry Kindness dengan teman tuli . (Foto : Muhammad Duta Komarudin).
Khalayak yang Disasar Komunitas
I Carry Kindness menaruh perhatian pada pihak pihak yang dinilai membutuhkan dan layak mendapat dukungan. Setiap proyek dirancang dengan keyakinan bahwa pesan dan aksi yang dijalankan akan menemukan audiensnya sendiri.
Selain itu, komunitas ini juga kerap bekerja bersama pelaku UMKM, dengan proses yang tidak hanya dipahami sebagai kerja kolaboratif, tetapi juga sebagai ruang bertukar cerita, pengalaman, dan keseharian usaha. Pendekatan ini menempatkan UMKM bukan semata sebagai objek bantuan, melainkan sebagai subjek yang memiliki narasi dan peran penting dalam membentuk kehidupan sosial di sekitarnya.
“I Carry Kindness turut membuka peluang kolaborasi lanjutan dengan komunitas sosial lain di wilayah Solo Raya,” imbuh Gege.
Melalui kerja bersama, komunitas ini menempatkan kolaborasi sebagai cara untuk membawa pesan kebaikan ke ruang yang lebih luas. Sekaligus memperluas jangkauan dampak sosial yang ingin dihadirkan.















