Menu

Mode Gelap
Breaking News: Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat, AKBP B Disanksi PTDH BREAKING NEWS! Telah Dibuka Penerimaan Bintara Brimob Polri TA 2026, Ini Syaratnya BREAKING NEWS: KPK Resmi Tahan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Hearing Soal Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup Puluhan Massa MPKB Tolak Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup

Berita Terkini · 16 Mei 2025 09:42 WIB

Musim Kemarau 2025 Dimulai Mei-Juni, Nusa Tenggara Paling Awal, Puncak Agustus


					BMKG: Kemarau 2025 mulai Mei-Juni, Nusa Tenggara terawal, puncak Agustus, durasi lebih pendek di 43% wilayah. (Foto: BMKG)

Perbesar

BMKG: Kemarau 2025 mulai Mei-Juni, Nusa Tenggara terawal, puncak Agustus, durasi lebih pendek di 43% wilayah. (Foto: BMKG)

BMKG: 57,7% Wilayah Indonesia Masuk Kemarau April-Juni 2025

Panselanews.com [JAKARTA] – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2025 akan dimulai pada periode Mei II hingga Juni I di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk sebagian Aceh, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, dan Papua. Sebanyak 8% wilayah Indonesia telah memasuki kemarau per Dasarian I Mei 2025, terutama di Nusa Tenggara yang menjadi wilayah paling awal.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyatakan bahwa 403 Zona Musim (ZOM) atau 57,7% wilayah Indonesia diprediksi masuk kemarau antara April hingga Juni 2025. “Nusa Tenggara akan alami kemarau lebih awal, diikuti wilayah lain seperti Jawa dan Sumatera,” ujarnya dalam rilis resmi, Kamis (15/5/2025). Prediksi ini berdasarkan analisis curah hujan dan dinamika atmosfer.

BMKG mencatat, musim kemarau 2025 di 409 ZOM (59%) akan dimulai sama atau lebih lambat dari normalnya, dengan curah hujan pada kategori normal di sebagian besar wilayah. “Akumulasi hujan tidak lebih basah atau kering dari biasanya,” kata Dwikorita. Hal ini memberikan peluang bagi sektor pertanian untuk mengelola irigasi dengan lebih baik.

Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2025 di sebagian besar ZOM, dengan waktu kedatangan sama atau lebih awal dari normalnya. “Puncak kemarau akan mendominasi hampir seluruh Indonesia, terutama di wilayah tengah dan timur,” ungkap Deputi Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan. Durasi kemarau diperkirakan lebih pendek di 298 ZOM (43%).

Prediksi ini menjadi perhatian bagi sektor pertanian, kehutanan, dan pengelolaan air. BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat mempersiapkan mitigasi, seperti pengelolaan waduk dan irigasi. “Kami harap wilayah rawan kekeringan seperti NTT antisipasi lebih awal,” ujar Ardhasena, menekankan pentingnya kesiapsiagaan.

Dengan durasi kemarau yang lebih pendek di banyak wilayah, peluang untuk menghindari kekeringan parah terbuka lebar, asalkan ada koordinasi lintas sektor. BMKG akan terus memantau perkembangan cuaca dan memberikan pembaruan untuk mendukung perencanaan yang lebih akurat di tingkat lokal dan nasional.(*)

Editor: Tri Wahyudi

BACA JUGA  Warga dan Pedagang Terkejut, CFD Ponorogo Pindah ke Jalan HOS Cokroaminoto, Bupati Sugiri Beberkan Alasannya

Artikel ini telah dibaca 80 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Wamen Dikdasmen Tinjau Pembelajaran Digital di SD Kanisius Wonogiri, Polisi Pastikan Pengamanan Kondusif

15 April 2026 - 20:40 WIB

Jelang Iduladha, Jateng Gencarkan Layanan Kesehatan Hewan Keliling Cegah Penyakit Ternak

15 April 2026 - 20:20 WIB

Guru PAI Garda Terdepan Akhlak: Mursyidi Tegaskan Kemuliaan Profesi Guru Tak Lekang oleh Waktu

15 April 2026 - 18:17 WIB

BPBD Jateng Gercep Tangani Banjir Solo Raya, dari Evakuasi Hingga Kebut Pompanisasi

15 April 2026 - 18:02 WIB

Gubernur Ahmad Luthfi Cek Lokasi Banjir Solo Raya, Pastikan Penanganan Segera

15 April 2026 - 16:51 WIB

Persatuan Jurnalis Wonogiri Gelar Maksi dan Halalbihalal, Solidaritas Wartawan Kian Menguat

15 April 2026 - 12:33 WIB

Trending di Berita Terkini