Menu

Mode Gelap
Breaking News: Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat, AKBP B Disanksi PTDH BREAKING NEWS! Telah Dibuka Penerimaan Bintara Brimob Polri TA 2026, Ini Syaratnya BREAKING NEWS: KPK Resmi Tahan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Hearing Soal Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup Puluhan Massa MPKB Tolak Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup

Opini · 18 Mar 2025 20:57 WIB

Rendahnya Literasi Komentar di Media Sosial: Cermin Kegagalan Berpikir Kritis


					Rendahnya Literasi Komentar di Media Sosial: Cermin Kegagalan Berpikir Kritis Perbesar

Media sosial telah menjadi ruang publik baru di era digital, tempat jutaan orang berinteraksi, berbagi informasi, dan menyampaikan pendapat. Namun, di balik kemudahan akses ini, ada fenomena yang semakin mencolok: rendahnya literasi dalam berkomentar. Banyak pengguna media sosial, terutama di Indonesia, kerap melontarkan komentar tanpa dasar fakta, penuh emosi, atau bahkan bernada kebencian. Rendahnya literasi ini bukan sekadar masalah etika, tetapi juga cerminan kegagalan berpikir kritis yang dapat memperkeruh diskursus publik dan memicu konflik sosial.

Salah satu penyebab utama adalah minimnya kemampuan memverifikasi informasi sebelum berkomentar. Banyak pengguna langsung menulis tanggapan berdasarkan judul berita atau potongan informasi tanpa membaca isi lengkapnya. Misalnya, unggahan di X tentang isu sensitif seperti politik atau agama sering memancing komentar pedas tanpa konteks yang jelas. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2024 menunjukkan bahwa 87,4% masyarakat Indonesia aktif di media sosial, namun survei Literasi Digital Nasional 2023 mencatat hanya 63,9% yang memiliki kemampuan dasar memahami informasi digital. Celah literasi ini membuat hoaks dan provokasi mudah menyebar melalui komentar-komentar tidak bertanggung jawab.

BACA JUGA  Peringati Hari Kebangkitan Nasional 117: Kementerian ATR/BPN Gelar Upacara, Tekankan Semangat Jawab Tantangan Zaman

Selain itu, budaya instan dan kebiasaan mencari validasi sosial turut memperparah kondisi ini. Komentar bernada sensasional, sarkastik, atau menghina sering kali dipilih karena lebih cepat menarik perhatian dan mendapatkan “like”. Psikolog sosial dari Universitas Indonesia, Dr. Hamdi Muluk, pernah menyebut fenomena ini sebagai “efek kerumunan digital,” di mana individu merasa aman bersikap agresif karena anonimitas dan minimnya konsekuensi langsung. Akibatnya, kolom komentar yang seharusnya menjadi wadah diskusi produktif justru berubah menjadi arena adu emosi, caci maki, bahkan ujaran kebencian yang memperdalam polarisasi masyarakat.

BACA JUGA  Peduli Sesama, Group Gebyar Surya Jatisrono Bantu Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Giritontro Wonogiri

Untuk mengatasi rendahnya literasi komentar di media sosial, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak. Pemerintah dan lembaga pendidikan harus memperkuat edukasi literasi digital sejak dini, mengajarkan cara menyaring informasi dan berkomentar secara bijak. Platform media sosial juga perlu meningkatkan algoritma untuk menyaring konten berbahaya dan memberikan peringatan kepada pengguna sebelum memposting komentar bernada negatif. Namun, yang terpenting, setiap individu harus menyadari tanggung jawabnya sebagai bagian dari ekosistem digital. Komentar bukan sekadar kata-kata, tetapi cerminan karakter dan kontribusi kita dalam membangun ruang publik yang lebih sehat. Tanpa literasi yang memadai, media sosial hanya akan menjadi ladang subur bagi kekacauan, bukan kemajuan.

BACA JUGA  Rumah Bersama Ekspor Jateng Resmi Diluncurkan, Nawal Yasin: CJTEC Jembatan UMKM Tembus Pasar Global

Oleh: Tri Wahyudi, Sekretaris Redaksi Portalika News Network (PNN)

Artikel ini telah dibaca 46 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Gus Yasin sebagai Ketua Umum PPP, Warisan KH Maimoen Zubair Hadapi Tantangan Masa Depan

14 Maret 2025 - 16:25 WIB

Tawadhu Orangtua kepada Guru: Jembatan Emas Pendidikan Anak

25 Februari 2025 - 14:40 WIB

Trending di Opini