PanselaNews.com, Malang – Gereja Paroki Hati Kudus Yesus Kayutangan di Kota Malang kembali membuka halamannya untuk Salat Idulfitri pada Senin, 31 Maret 2025. Tradisi yang telah berlangsung bertahun-tahun ini menjadi wujud nyata toleransi antarumat beragama di Indonesia. Sejak pukul 05.00 WIB, romo, suster, frater, dan pengurus gereja mempersiapkan lokasi dengan menggelar alas salat, dibantu mahasiswa Katolik dari Universitas Negeri Malang, untuk menyambut jemaah yang membludak dari Masjid Jami’ di Jalan Merdeka Barat.
Romo Paulus Teguh O.Carm, salah satu pengurus Gereja Kayutangan, menyatakan kebanggaannya atas tradisi ini. “Kami diberkahi lokasi yang memungkinkan kebersamaan ini. Tradisi ini kami jaga untuk menunjukkan kebinekaan dan ke-Indonesiaan yang sejati,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa persiapan telah dilakukan sejak hari sebelumnya, termasuk mengumpulkan koran dan alas untuk kenyamanan jemaah. Usai salat, pengurus gereja berjejer di depan gerbang, mengucapkan selamat Idulfitri kepada umat Islam yang melintas, menciptakan momen hangat penuh kebersamaan.
Gereja Kayutangan, yang berdiri sejak abad ke-19 di Jl. Sugiyopranoto, terkenal dengan arsitektur neo-gotiknya yang megah. Berdekatan dengan Masjid Jami’ Malang, yang juga didirikan pada abad ke-19 dengan gaya Jawa-Arab, kedua bangunan ini menjadi simbol harmoni antaragama. Jemaah Salat Id yang tak tertampung di masjid meluber hingga halaman gereja, menunjukkan betapa tradisi ini telah mengakar kuat di hati masyarakat Malang sebagai bagian dari perayaan Idulfitri 1446 H.
Baca juga: Kemenag Tetapkan Lebaran 2025, Sidang Isbat Digelar 29 Maret
Momen ini bukan hanya tentang berbagi ruang, tetapi juga memperkuat nilai toleransi dan keberagaman. Mahasiswa yang turut membantu menyampaikan rasa bangga ikut melestarikan tradisi ini. Diharapkan, kebersamaan antara umat Islam dan Katolik di Kota Malang terus terjaga, menjadi teladan bagi daerah lain di Indonesia dalam merawat kebhinekaan di tengah perbedaan keyakinan.
Sumber: RRI









