PanselaNews.com [Wonogiri] – Dalam era kepemimpinan Presiden Soeharto, satu kebijakan yang memiliki dampak besar terhadap pendidikan di Indonesia adalah pembangunan Sekolah Dasar Inpres (SD Inpres). Program ini, yang dimulai dengan Instruksi Presiden (Inpres) No. 10 Tahun 1973, bertujuan untuk memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak di pedesaan dan perkotaan dengan penduduk berpenghasilan rendah.
SD Inpres dikenal sebagai “sekolah kecil” karena fokusnya pada daerah-daerah terpencil, menyediakan fasilitas pendidikan dasar untuk anak-anak yang sebelumnya tidak memiliki akses. Pembangunan ini tidak hanya meningkatkan angka partisipasi sekolah, tetapi juga membantu menurunkan angka buta huruf di Indonesia. Hingga periode 1993/1994, tercatat hampir 150.000 unit SD Inpres telah dibangun, dengan lebih dari satu juta guru ditempatkan di seluruh negeri.
Baca juga: Pelantikan Pejabat Baru di Kemendikdasmen: Langkah Strategis Memajukan Pendidikan Nasional
Penelitian tentang program ini bahkan membawa pulang Hadiah Nobel Ekonomi pada 2019 untuk Esther Duflo, yang meneliti dampak SD Inpres terhadap pendidikan dan ekonomi. Studi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan SD Inpres berhubungan langsung dengan peningkatan pendidikan dan pendapatan masyarakat Indonesia.
Meskipun program ini menghadapi berbagai tantangan, termasuk kualitas bangunan dan kecukupan guru, kontribusinya terhadap pembangunan pendidikan di Indonesia tidak dapat dipungkiri. SD Inpres tetap menjadi simbol kemajuan pendidikan di masa kepresidenan Soeharto. (tw)
Editor : Tri Wahyudi











