Anjungan Cerdas Bendungan Tugu, Trenggalek terinspirasi dari rest area yang ada di Michi No Eki, Jepang. Foto: PanselaNews
PanselaNews.com [TRENGGALEK] – Rest area Anjungan Cerdas Bendungan Tugu yang terletak di jalur nasional Trenggalek–Ponorogo, resmi dibuka untuk umum sejak Juni 2025 lalu.
Rest area megah ini mulai pembangunan sejak 2016 dan selesai secara fisik pada 2018 dengan anggaran lebih dari Rp60 miliar.
Presiden ke-7 RI Joko Widodo pun sempat meresmikannya bersamaan dengan peresmian Bendungan Tugu pada 2021 lalu.
Anjungan Cerdas ini dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung yang memadai dan memiliki tujuh fungsi, mulai dari rest area, pendidikan, rekreasi, pengembangan ekonomi lokal, konservasi dan beberapa fungsi lain.
Proyek dari pemerintah pusat itu merupakan hasil dari penelitian dan pengembangan yang terinspirasi dari rest area yang ada di Michi No Eki, Jepang. Selain di Trenggalek, proyek serupa juga dibangun di kawasan Jebrana Bali.
Trenggalek menjadi pilihan lokasi pembangunan, karena berada di tengah-tengah jalur utama Yogyakarta-Malang. Selain itu nantinya juga akan menjadi salah satu pusat pengembangan perekonomian lokal.
Namun kawasan yang sebelumnya digadang menjadi ikon baru sekaligus simpul ekonomi lokal itu justru tidak banyak diketahui masyarakat.
Hampir satu dekade berlalu, fasilitas ini lebih sering kosong dan tidak terkelola secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Trenggalek, Sunyoto, membenarkan bahwa Anjungan Cerdas memang sudah dibuka, meski tanpa pemberitahuan resmi ke publik.
Ia juga menjelaskan bahwa pengelolaan Anjungan Cerdas berada di bawah kewenangan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, bukan Pemerintah Kabupaten Trenggalek.
“Sebetulnya Anjungan Cerdas itu sudah dibuka. Tapi sayangnya, tanpa sosialisasi. Akhirnya ya wajar kalau masih sepi sampai sekarang,” ujarnya dikutip dari Suara Trenggalek, Jumat, 25 Juli 2025.
Hal ini, menurut Sunyoto, kerap membingungkan warga yang ingin menggunakan area tersebut untuk kegiatan publik.
“Masyarakat sering datang ke kami, padahal asetnya milik provinsi. Akhirnya ya tetap kami bantu hubungkan ke sana,” imbuhnya. [*]
Editor: Sarno Kenes









