Tradisi Sakral 1 Suro Perkuat Identitas Budaya dan Spiritualitas Jawa
Panselanews.com [SURAKARTA] – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menghadiri prosesi Kirab Malam 1 Suro yang diselenggarakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada Jumat dini hari (27/6). Acara ini merupakan bagian dari peringatan Tahun Baru Islam yang bertepatan dengan 1 Suro 1959 Dal dalam kalender Jawa, sebuah momen sakral yang kaya akan makna spiritual dan budaya bagi masyarakat Jawa.
Kirab Malam 1 Suro, yang telah berlangsung selama ratusan tahun, menjadi simbol refleksi diri, penghormatan terhadap leluhur, dan doa untuk keselamatan. Prosesi ini melibatkan arak-arakan pusaka keraton yang dipimpin oleh kebo bule, keturunan Kyai Slamet, kerbau albino yang dianggap keramat dan menjadi ikon utama tradisi ini. Ribuan masyarakat, baik lokal maupun wisatawan, memadati rute kirab yang dimulai dari Kori Kamandungan Keraton Solo, melintasi Jalan Supit Urang, Jalan Jenderal Sudirman, hingga kembali ke keraton.
Dalam keterangannya melalui akun X @fadlizon, Fadli Zon menegaskan pentingnya tradisi ini dalam mempertahankan identitas budaya Jawa. “Kegiatan semacam ini memiliki nilai yang sangat penting, khususnya dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam dalam budaya Jawa, yaitu 1 Suro. Tradisi ini sarat akan simbol dan filosofi yang dalam, mencerminkan spiritualitas, harapan, dan penghormatan terhadap leluhur,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa pelestarian budaya seperti Kirab Malam 1 Suro tidak hanya memperkuat jati diri masyarakat Jawa, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mendunia.
Prosesi kirab ini berlangsung dalam suasana hening dengan ritual tapa bisu, di mana peserta dilarang berbicara sebagai bentuk perenungan diri atas perbuatan selama setahun terakhir. Para peserta, yang mengenakan busana adat Jawa berwarna hitam seperti Jawi Jangkep untuk pria dan kebaya hitam untuk wanita, berjalan tanpa alas kaki mengelilingi tembok keraton sejauh empat kilometer. Kebo bule Kyai Slamet, yang memimpin arak-arakan, menjadi daya tarik utama, dengan masyarakat mempercayai bahwa menyentuhnya atau mengambil sisa sesaji dapat mendatangkan berkah.
Menurut Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Dipokusumo, koordinator kirab, tradisi ini bukan hanya perayaan pergantian tahun, tetapi juga wujud penghormatan terhadap spiritualitas, sejarah, dan budaya Jawa-Islam. “Kirab ini adalah warisan leluhur yang memperkuat hubungan antara keraton dan masyarakat,” ungkapnya. Selain kirab, rangkaian acara 1 Suro di Keraton Surakarta juga mencakup doa bersama, salat hajat, meditasi di Pulau Bandengan, dan labuhan di tempat-tempat keramat seperti Gunung Lawu dan Laut Selatan.
Fadli Zon, yang juga hadir dalam rapat persiapan di Kagungan Dalem Sasono Putra Keraton, mengapresiasi antusiasme masyarakat dalam menjaga tradisi ini. Ia menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk terus mendukung pelestarian warisan budaya tak benda seperti Kirab Malam 1 Suro. “Kita harus lestarikan budaya ini sampai ke akarnya, karena ini adalah identitas kita sebagai bangsa,” tuturnya.
Tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran untuk menjaga eksistensi budaya Jawa di tengah modernisasi. Selain di Solo, tradisi serupa juga digelar di Keraton Yogyakarta melalui Lampah Budaya Mubeng Beteng, yang memiliki makna serupa sebagai wujud introspeksi dan penyucian diri.
Malam 1 Suro 2025, yang bertepatan dengan 1 Muharram 1447 Hijriah, tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga ajang promosi budaya Jawa yang menarik minat wisatawan domestik dan mancanegara. Dengan pelestarian tradisi ini, diharapkan nilai-nilai luhur budaya Jawa terus hidup dan relevan di era modern.










