Menu

Mode Gelap
Breaking News: Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat, AKBP B Disanksi PTDH BREAKING NEWS! Telah Dibuka Penerimaan Bintara Brimob Polri TA 2026, Ini Syaratnya BREAKING NEWS: KPK Resmi Tahan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Hearing Soal Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup Puluhan Massa MPKB Tolak Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup

Berita Terkini · 6 Mei 2026 20:11 WIB

Bantuan Rumah dari Pemprov Jateng Ubah Hidup Subali, Penjual Bakso Keliling di Wonogiri


					Bantuan Rumah dari Pemprov Jateng Ubah Hidup Subali, Penjual Bakso Keliling di Wonogiri Perbesar

 

 

PanselaNews.com  [WONOGIRI] – Di sela hiruk-pikuk jalan desa, Subali tak pernah absen mengayuh hidupnya dengan motor tua. Dari satu kampung ke kampung lain, dari depan sekolah hingga acara budaya desa, dia menjajakan bakso bakar demi menghidupi keluarga kecilnya di Desa Sirnoboyo RT 4 RW 1, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri.

Bagi Subali, hidup selama ini adalah tentang bertahan. Penghasilan dari berjualan bakso keliling tak selalu pasti. Dia dan keluarga tinggal di rumah sederhana yang jauh dari kata layak. Namun, di tengah keterbatasan itu, Subali tetap melangkah tanpa banyak berharap.

“Dulu nggak pernah kepikiran punya rumah bagus. Wong buat makan sehari-hari saja harus muter jualan terus,” kata Subali, Rabu (6/5/2026).

Hingga akhirnya, dia terpilih sebagai salah satu penerima bantuan rumah dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui program “Ngopeni Omah Nglakoni Sesarengan”. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah masuk dalam bayangannya.

Kini, Subali berdiri di depan rumah barunya. Dinding kokoh, atap yang tak lagi bocor, serta lantai yang kering dan bersih menjadi pemandangan yang setiap hari ia syukuri. Rumah tersebut bukan sekadar bangunan, melainkan bukti nyata kehadiran negara dalam kehidupan masyarakat kecil seperti dirinya.

“Saya benar-benar nggak nyangka. Saya ini cuma penjual bakso bakar keliling, pakai motor butut. Tapi bisa punya rumah yang nyaman begini,” ujarnya, dengan mata berbinar.

BACA JUGA  Alexander Zwiers Resmi Jadi Dirtek PSSI yang Baru

Bantuan rumah itu tak hanya mengubah tempat tinggalnya, tetapi juga kualitas hidup keluarganya. Istri dan anaknya kini bisa beraktivitas dengan lebih nyaman. Anak Subali bahkan memiliki ruang yang lebih layak untuk belajar.

“Sekarang lebih nyaman punya rumah sendiri. Kalau dulu masih numpang di rumah mertua. Anak juga lebih semangat belajar,” katanya.

Program bantuan rumah dari Pemprov Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi, memang menyasar keluarga berpenghasilan rendah yang belum memiliki rumah. Melalui verifikasi data dan kondisi lapangan, bantuan diberikan agar masyarakat bisa memiliki tempat tinggal yang sehat dan aman.

Bagi Subali, bantuan itu menjadi titik balik. Dia tetap menjalani profesinya sebagai penjual bakso keliling, tetap menyusuri jalan desa dengan motor lamanya. Namun kini, ada rasa tenang setiap kali Subali pulang.

“Saya jadi lebih semangat kerja. Pulang sudah ada rumah yang nyaman,” ucapnya.

Di balik kesederhanaannya, kisah Subali menggambarkan dampak nyata sebuah program bantuan. Intervensi pemerintah sekecil apa pun terlihat, bisa membawa perubahan besar bagi kehidupan seseorang.

Dari motor butut dan gerobak bakso, kini Subali memiliki satu hal yang dulu terasa mustahil, sebuah rumah layak untuk keluarganya, dan harapan yang tumbuh di dalamnya.

“Saya tidak pernah berpikir akan punya rumah. Tapi Alhamdulillah sekarang terwujud berkat bantuan pemerintah,” ungkapnya.

Kebahagiaan juga dirasakan Sumar, warga Desa Sirnoboyo yang menerima bantuan program rumah tak layak huni (RTLH). Rumahnya yang berdinding kayu, kini sebagian besar direnovasi menjadi dinding bata berlapis semen.

BACA JUGA  Kementerian ATR/BPN Berkomitmen Wujudkan Swasembada Pangan

“Wah, senang banget rasanya mendapat bantuan RTLH. Saya merasa pemerintah memberikan perhatian kepada warganya,” katanya.

Sumar hanyalah petani dan pekerja serabutan, yang membuat pendapatannya tidak menentu, sehingga tidak mampu merenovasi rumah.

“Pekerjaan serabutan. Kadang buruh tani, kadang ikut tukang batu. Ingin memperbaiki rumah tapi uang belum ada. Tapi alhamdulillah dapat bantuan dari pemerintah jadi bisa renovasi rumah,” lanjutnya.

Bantuan pemerintah berupa renovasi rumah tersebut membuat Sumar bisa lebih bersemangat bekerja dan bersyukur.

“Rumah ini saya tinggali bersama istri. Ya, berdua sama istri. Rasanya lega karena rumahnya kokoh atapnya sudah bagus,” tandasnya.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi, menunjukkan komitmen kuat dalam mengatasi backlog perumahan. Dari 2025 hingga triwulan I tahun 2026, total sebanyak 281.312 unit rumah bagi warga miskin, telah berhasil dibangun melalui berbagai skema pendanaan.

Pada 2025, pembangunan rumah mencapai 274.514 unit. Jumlah tersebut berasal dari berbagai sumber, yakni APBN sebanyak 14.454 unit, APBD Provinsi Jawa Tengah 17.510 unit, APBD kabupaten/kota 12.830 unit, CSR dan Baznas 4.012 unit, serta sumber pendanaan lainnya sebanyak 219.524 unit.

Selain itu, terdapat updating data sebanyak 6.184 unit. Memasuki triwulan I tahun 2026, realisasi pembangunan kembali bertambah sebanyak 6.798 unit. Dengan demikian, total capaian pembangunan rumah warga miskin hingga awal 2026 mencapai 281.312 unit.

BACA JUGA  Waduh! Ribuan Orang di Blitar Alami Gangguan Jiwa, Didominasi Laki-laki

Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Disperakim) Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan menjelaskan, capaian tersebut merupakan bagian dari upaya pengurangan backlog perumahan di Jawa Tengah.

“Pada akhir tahun 2025, data backlog perumahan di Jawa Tengah tercatat sekitar 1.332.000 unit. Melalui berbagai program kolaboratif, pada tahun 2025 saja berhasil diselesaikan sekitar 274.000 unit, sehingga pada awal 2026 backlog turun menjadi sekitar 1.058.000 unit,” jelasnya.

Menurut Boedyo, angka backlog tersebut menjadi target penyelesaian dalam empat tahun ke depan di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen. Untuk triwulan I tahun 2026, capaian penanganan backlog telah mencapai sekitar 6.798 unit dan diharapkan terus meningkat seiring penguatan kolaborasi lintas sektor.

Dia menambahkan, penanganan backlog mencakup dua aspek utama, yakni backlog kepemilikan (masyarakat yang belum memiliki rumah) dan backlog kelayakan (rumah yang belum layak huni). Program yang dijalankan meliputi pembangunan rumah baru serta perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

“Kolaborasi pendanaan terus dilakukan antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, serta melibatkan pemangku kepentingan lain seperti CSR, Baznas, pelaku usaha, dan masyarakat,” tandasnya. (*)

Penulis

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Solar Industri Melonjak, Nelayan Jateng Minta Skema BBM Khusus

8 Mei 2026 - 21:32 WIB

Bakso Wonogiri Mendunia, 5.000 Porsi Gratis Dibagikan Meriahkan Hari Jadi ke-285 Wonogiri

8 Mei 2026 - 14:20 WIB

Semarak Hari Jadi ke-285 Wonogiri, Kapolres Hadiri Lomba Napak Tilas Pangeran Sambernyawa

8 Mei 2026 - 13:18 WIB

Guru SMPN di Wonogiri Diduga Cabuli Siswi, Terancam Hukuman 15 Tahun

8 Mei 2026 - 07:57 WIB

Kapolres Wonogiri Pimpin Sertijab Kapolsek Bulukerto dan Kasat Binmas

7 Mei 2026 - 20:44 WIB

Tak Jera! Residivis Curanmor Kembali Ditangkap Polisi Saat Beraksi di Pinggir Sawah di Pracimantoro Wonogiri

7 Mei 2026 - 09:35 WIB

Trending di Berita Terkini