PanselaNews.com, Jakarta – Nasib ribuan buruh PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai menunjukkan titik terang. Setelah perusahaan tekstil raksasa ini resmi ditutup pada 1 Maret 2025 akibat kepailitan, tim kurator dan pemerintah mengupayakan skema agar eks karyawan dapat dipekerjakan kembali. Opsi penyewaan aset alat berat Sritex kepada investor menjadi salah satu solusi yang kini tengah digodok untuk menghidupkan kembali aktivitas produksi.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengungkapkan optimisme atas langkah ini dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada 3 Maret 2025. “Dalam dua minggu ke depan, buruh Sritex bisa kembali bekerja melalui investor yang menyewa aset,” ujar Yassierli usai pertemuan. Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen mengawal hak-hak pekerja, termasuk jaminan hari tua (JHT) dan jaminan kehilangan pekerjaan (JKP), sembari memastikan peluang kerja baru terbuka.
Tim kurator Sritex, yang diwakili Nurma Sadikin, juga membenarkan adanya komunikasi intensif dengan calon investor. “Kami membuka opsi penyewaan aset untuk menjaga nilai perusahaan, dan buruh Sritex memiliki peluang direkrut kembali oleh penyewa,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, 3 Maret 2025. Skema ini diharapkan menjadi jembatan sementara sebelum aset dilelang secara permanen, memberikan harapan bagi sekitar 10.669 pekerja terdampak PHK.
Baca juga: Ahmad Luthfi Cari Solusi PHK Sritex: Gandeng 9 Perusahaan dan Fasilitasi Wirausaha
Upaya ini merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya solusi cepat untuk mencegah gejolak sosial di Sukoharjo dan Jawa Tengah. Koordinasi lintas sektor, termasuk dengan Pemprov Jateng dan BPJS Ketenagakerjaan, terus dilakukan untuk memastikan buruh mendapat hak serta kesempatan kerja. Meski demikian, serikat pekerja masih menagih kejelasan soal pesangon yang hingga kini belum cair sepenuhnya.
Respons masyarakat cukup positif, meski banyak yang menanti realisasi dalam dua pekan ke depan seperti yang dijanjikan. Dengan peluang ini, nasib buruh Sritex kini bergantung pada keberhasilan negosiasi dengan investor dan komitmen pemerintah. Langkah ini juga menjadi sinyal harapan bagi industri tekstil nasional yang tengah menghadapi tantangan berat pasca-kepailitan Sritex. (ant/tw)









