Menu

Mode Gelap
Breaking News: Terbukti Lakukan Pelanggaran Berat, AKBP B Disanksi PTDH BREAKING NEWS! Telah Dibuka Penerimaan Bintara Brimob Polri TA 2026, Ini Syaratnya BREAKING NEWS: KPK Resmi Tahan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Hearing Soal Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup Puluhan Massa MPKB Tolak Tambang Ilegal, Dewan Blitar Setuju Ditutup

Berita Terkini · 16 Mar 2026 17:12 WIB

Kisah Pemudik Asal Karanganyar, Buatkan Sebungkus Bakso Khusus untuk Gubernur 


					Kisah Pemudik Asal Karanganyar, Buatkan Sebungkus Bakso Khusus untuk Gubernur  Perbesar

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, menerima sebungkus Bakso dari perantau asal Karanganyar. 

 

PanselaNews.com [JAKARTA] – Di tengah hiruk pikuk program Mudik Gratis Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (16/3/2026), sebuah momen sederhana justru mencuri perhatian.

Seorang pemudik tiba-tiba menyodorkan sebungkus bakso kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi. Bukan sekadar makanan, bingkisan itu adalah simbol rasa terima kasih dari seorang perantau yang puluhan tahun berjuang hidup di Ibu Kota.

Suasana di area parkir Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII, siang itu dipenuhi ratusan pemudik yang bersiap pulang ke kampung halaman. Gubernur Ahmad Luthfi tampak menyusuri deretan bus, menyapa satu per satu peserta mudik gratis.

Ketika sampai di bus nomor 21 tujuan Kabupaten Karanganyar, ia berhenti di kursi seorang pemudik bernama Lulik Setiyawan. Percakapan santai pun terjadi.

“Kamu pekerjaannya apa? Sudah ikut mudik gratis berapa kali?” tanya Ahmad Luthfi.

Lulik menjawab dengan senyum. Ia mengaku sebagai pedagang bakso keliling di kawasan Jakarta Selatan. Program mudik gratis itu bukan hal baru baginya. Sejak 2016, ia hampir selalu ikut program tersebut untuk pulang ke kampung halaman di Karanganyar.

BACA JUGA  Pentingnya Peran Serta Masyarakat dalam Menjaga Batas Tanah Miliknya Masing-Masing

Namun di tengah percakapan itu, tiba-tiba Lulik menyodorkan sebuah kantong plastik berisi bakso kepada sang gubernur.

“Pak, ngapunten. Niki kula damelke khusus kagem Pak Gubernur (Pak mohon maaf. Ini saya buatkan khusus buat Pak Gubernur),” ucapnya dalam bahasa Jawa halus, sambil tersenyum.

Ahmad Luthfi pun tertawa hangat menerima bingkisan sederhana tersebut. Ia kemudian membalas dengan memberikan paket makanan ringan sebagai bekal perjalanan bagi Lulik.

“Top, dikasih bakso aku. Besok baliknya ikut program Balik Rantau Gratis juga? Bisa ngirit dong. Yang penting senang dan sehat,” kata Ahmad Luthfi.

Di balik sebungkus bakso itu, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang perantau. Lulik sudah hampir 25 tahun hidup di Jakarta. Setelah lulus sekolah, ia mengikuti orang tuanya yang lebih dulu merantau ke ibu kota. Awalnya ia bekerja serabutan sambil membantu orang tua berjualan bakso.

BACA JUGA  Satu Rumah Ludes Terbakar di Wuryantoro Wonogiri, Polisi Berusaha Ikut Padamkan Api

Setelah menikah pada 2012, Lulik memutuskan membuka usaha sendiri sebagai pedagang bakso keliling. Sementara sang istri ikut menopang ekonomi keluarga dengan berjualan jamu keliling.

“Hampir 25 tahun jualan. Dulu ikut orang tua, terus sempat kerja serabutan, akhirnya setelah menikah baru jualan bakso sendiri,” ujarnya.

Penghasilan kotor dari berjualan bakso keliling rata-rata sekitar Rp 5 juta per bulan. Namun angka itu masih harus dipotong berbagai kebutuhan hidup di Jakarta.

Ia menyewa rumah kontrakan kecil bersama istri dan anak-anaknya dengan biaya Rp 800 ribu per bulan. Jika ditambah kebutuhan makan, listrik, dan air, total pengeluaran rumah tangga bisa mencapai sekitar Rp 1 juta per bulan. Belum lagi biaya sekolah anak yang harus terus dipenuhi.

Ketika musim Lebaran tiba, beban pengeluaran biasanya semakin berat. Harga tiket bus menuju Karanganyar bisa mencapai Rp 600 ribu per orang.

“Kalau mudik bayar sendiri ya berat. Makanya program mudik gratis ini sangat membantu sekali,” katanya.

BACA JUGA  Polres Wonogiri Tangkap Dua Maling Motor dan Seorang Penadah di Mojolaban

Kisah serupa juga dialami Bejo Fauzan, pedagang bakso asal Jatiyoso, Karanganyar, yang kini berjualan di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Bejo sudah merantau sejak 1994. Perjalanan usahanya dimulai dari yang paling sederhana.

Awalnya ia berjualan bakso menggunakan pikulan. Lalu beralih menggunakan sepeda ontel, kemudian memakai gerobak dorong keliling. Setelah bertahun-tahun berjuang, ia akhirnya bisa membuka warung kaki lima. Kini Bejo bahkan mampu menyewa sebuah bangunan kecil untuk berjualan.

“Di sini baru empat tahun. Dulu warung tempel di depan situ, kemudian dapat kontrak bangunan ini. Sewanya Rp 3,5 juta per bulan,” katanya. Pendapatan kotor dari usahanya berkisar Rp 6 juta hingga Rp 7 juta per bulan.

Meski sudah puluhan tahun merantau, baru tahun ini Bejo mengetahui adanya program mudik gratis dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Informasi itu ia dapat dari Lulik.

Editor: Sarno Kenes

Penulis

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Weda Hendragiri Kembali Terpilih Sebagai Ketua Umum Pengkab IPSI Wonogiri Periode 2026–2030

17 April 2026 - 17:50 WIB

Aktif dan Adaptif di Era Digital, Bidhumas Polda Jateng Raih Tiga Penghargaan Nasional

17 April 2026 - 14:43 WIB

Batu Tebing Timpa Mobil Fortuner di KM 16 Trenggalek-Ponorogo, Jalur Ditutup

17 April 2026 - 10:30 WIB

Dua Orang Digrebek Polisi, Diduga Produksi Konten Porno di Hotel Tulungagung

16 April 2026 - 19:31 WIB

Kecelakaan Kerja di Giritontro Wonogiri, Satu Warga Meninggal Dunia

16 April 2026 - 16:45 WIB

ATR/BPN Minta Dukungan DPR untuk Transformasi STPN Ikatan Dinas

16 April 2026 - 08:58 WIB

"Sekjen ATR/BPN Dalu Agung Darmawan menyampaikan usulan transformasi STPN di RDP Komisi II DPR"
Trending di Nasional