PanselaNews, Sukoharjo – Pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) di Sukoharjo, Jawa Tengah, resmi tutup pada 1 Maret 2025, menandai akhir dari perjalanan panjang perusahaan tekstil yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia. Pabrik ini pertama kali diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 3 Maret 1992, bersamaan dengan 275 industri lainnya di Surakarta. Didirikan oleh H.M. Lukminto pada 1966 sebagai usaha dagang di Pasar Klewer, Solo, Sritex tumbuh menjadi raksasa tekstil Asia Tenggara dengan produksi seragam militer untuk NATO dan lebih dari 40 negara.
Namun, kejayaan Sritex tak bertahan selamanya. Setelah menghadapi kerugian selama empat tahun berturut-turut sejak 2021 dan utang mencapai 1,597 miliar dolar AS (sekitar Rp26,4 triliun), perusahaan ini dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Semarang pada 21 Oktober 2024. Keputusan tersebut diperkuat oleh penolakan kasasi Mahkamah Agung pada Desember 2024, memaksa Sritex menghentikan operasionalnya. Penutupan ini berdampak besar, dengan 10.669 karyawan dari Sritex Group terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Diresmikan di era Orde Baru, Sritex sempat menjadi simbol kemajuan industri nasional berkat dukungan pemerintah Soeharto. “Kami membangun Sritex dengan mimpi besar untuk Indonesia, tetapi tantangan global dan keuangan yang berat akhirnya menutup perjalanan kami,” ujar Direktur Utama Sritex, Iwan Kurniawan Lukminto, dalam pernyataan resmi usai pengumuman penutupan. Ia menegaskan bahwa langkah hukum seperti pengajuan Peninjauan Kembali (PK) telah ditempuh, namun tak cukup menyelamatkan perusahaan.
Baca juga: Ribuan Karyawan Sritex Sukoharjo Di-PHK, Tinggalkan Kenangan di Seragam Bertanda Tangan
Kedekatan Sritex dengan penguasa Orde Baru, termasuk keluarga Cendana dan Menteri Penerangan Harmoko, menjadi salah satu faktor lonjakan pesatnya di masa lalu. Perusahaan ini memproduksi seragam untuk TNI, Polri, hingga atribut Golkar, sebelum akhirnya merambah pasar internasional. Krisis ekonomi, persaingan global, dan pandemi menjadi pemicu utama kemunduran Sritex, yang sempat mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2013 dengan kode SRIL.
Penutupan Sritex meninggalkan luka mendalam bagi perekonomian Sukoharjo dan Jawa Tengah. Industri tekstil yang pernah menyerap puluhan ribu tenaga kerja ini kini menjadi kenangan, sekaligus pelajaran berharga tentang tantangan bertahan di era modern. Meski berakhir tragis, warisan Sritex sebagai pionir tekstil Indonesia yang diresmikan Soeharto tetap tercatat dalam sejarah, mengakhiri babaknya di tengah dinamika zaman yang tak terelakkan.











