Empati Pemerintah Hadir di Lokasi Bencana
PanselaNews.com [SEMARANG] – Apresiasi penanganan bencana Pemprov Jawa Tengah disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Perindo Jawa Tengah, Joko Purnomo, menyusul rentetan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Menurut Joko, kehadiran cepat pemerintah daerah menjadi kunci dalam memberikan perlindungan dan rasa aman bagi masyarakat terdampak.
Joko menjelaskan, bencana hidrometeorologi terjadi hampir merata di berbagai wilayah Jawa Tengah. Mulai dari banjir di Demak, Kudus, Grobogan, hingga longsor yang menelan korban jiwa di Cilacap dan Banjarnegara. Kondisi tersebut berlanjut dengan banjir di Kudus dan Pati, serta banjir yang kini melanda Brebes, Tegal, dan Pemalang.
“Kehadiran cepat dan empati Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjadi keharusan di tengah banyaknya korban meninggal dan masyarakat terdampak,” ujar Joko saat ditemui di sela koordinasi dan konsolidasi di Kantor DPW Partai Perindo Jawa Tengah.
Joko menilai langkah cepat Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Gus Yassin, serta seluruh jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), mencerminkan empati yang tinggi kepada masyarakat. Ia menyebut, menghadapi bencana yang datang tiba-tiba membutuhkan kebijakan cepat dan pemanfaatan sumber daya secara tepat.
Menurutnya, tidak mudah mengoordinasikan penanganan bencana dalam skala besar. Namun, kehadiran langsung pimpinan daerah di lokasi bencana menjadi bentuk nyata kepedulian pemerintah kepada rakyatnya.
Sepanjang tahun 2025, Jawa Tengah tercatat mengalami ratusan kejadian bencana, didominasi banjir dan tanah longsor. Jumlah masyarakat terdampak mencapai puluhan ribu orang, dengan ribuan di antaranya harus mengungsi.
Pada awal 2025, banjir dan longsor di Kabupaten Pekalongan menelan korban jiwa hingga sekitar 25 orang. Sementara itu, pada November 2025, longsor besar di Cilacap dan Banjarnegara kembali memakan korban dan menjadi salah satu bencana paling mematikan di akhir tahun.
Selain longsor, banjir juga terjadi di berbagai wilayah seperti Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Batang, Grobogan, dan Demak.
Memasuki awal 2026, bencana kembali melanda Jawa Tengah. BPBD mencatat sekitar 300 ribu warga terdampak, dengan 9.729 jiwa mengungsi di sejumlah daerah, antara lain Batang, Pekalongan, Jepara, Pemalang, Brebes, dan Magelang.
Joko berharap, pemerintah terus memperkuat edukasi dan mitigasi bencana kepada masyarakat. Menurutnya, kesadaran kolektif menjadi kunci dalam mengurangi risiko dan dampak bencana di masa mendatang.
“Kita tidak menghendaki bencana, tetapi tidak bisa sepenuhnya menghindari. Edukasi mitigasi harus terus dilakukan,” pungkas Joko. (Agus K)









