Rafi Azzamy Soroti Ujaran Sinis di Tengah Ketegangan Demo 23 Maret 2025
PanselaNews, Malang – Pasca-demo penolakan UU TNI yang berujung ricuh di depan Kantor DPRD Kota Malang pada Minggu malam (23/3/2025), muncul kain putih menyerupai spanduk dengan tulisan provokatif “Demomu susahku…Macet” di depan tumpukan aspirasi massa aksi. Fenomena ini disorot oleh Rafi Azzamy melalui akun X @Rafilsafat saat sahur pukul 03.25 WIB, Senin (24/3/2025). “Pas sahur (03.25) mampir, terpantau sudah mulai ada ujaran kebencian terhadap demo di Malang semalam (23/03). Ada pihak yang menulis ‘Demomu susahku…Macet’ di depan tumpukan aspirasi massa aksi,” tulis Rafi, menyinggung nada sinis yang ia anggap rendah dan mudah ditebak asalnya.
Kericuhan demo tersebut meninggalkan jejak kelam, dengan bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan yang mengakibatkan sejumlah korban. LBH Malang melaporkan tiga demonstran ditangkap, 8-10 orang hilang kontak, dan 6-7 lainnya dilarikan ke rumah sakit, termasuk satu dengan luka parah. Koordinator LBH Pos Malang, Daniel Siagian, menyatakan, “Diestimasi sejumlah belasan kendaraan bermotor milik massa aksi diamankan ke Polresta Malang Kota.” Aksi penyisiran aparat di Jalan Gajahmada dengan dua pleton bersenjata pemukul semakin memanaskan situasi, bahkan menyeret tim medis dan jurnalis ke dalam dampak kekerasan.
Rafi Azzamy menambahkan dalam cuitannya, “Tak perlu curiga, dari kualitas sinisnya yang rendah, kita tahu pelakunya siapa.” Tulisan di kain putih tersebut menjadi simbol ketegangan tambahan, mencerminkan polarisasi opini publik pasca-demo. Aksi yang awalnya menyuarakan kekhawatiran terhadap supremasi sipil atas UU TNI berubah menjadi sorotan nasional setelah ricuh. Aparat juga menyisir titik-titik kumpul massa seperti sekitar rumah sakit dan kafe, sementara belasan motor yang diparkir di SMAN 4 Malang disita, memperparah suasana di lapangan.
Baca juga: Demo Tolak UU TNI di Malang Ricuh: Demonstran Luka, Kendaraan Disita Aparat
Kemunculan spanduk sinis ini memicu diskusi di media sosial, dengan Rafi Azzamy menjadi salah satu yang vokal mengkritiknya. “Aparat melakukan penyisiran dan memukul mundur demonstran sejak pukul 18.30 WIB,” ujar Daniel Siagian, menegaskan eskalasi kekerasan yang terjadi. Insiden ini tidak hanya meninggalkan luka fisik bagi demonstran, tetapi juga memunculkan narasi baru di ranah daring tentang hak berekspresi dan penanganan unjuk rasa. Peristiwa ini terus menjadi perhatian, baik dari sisi dampak langsung maupun reaksi masyarakat yang terpantau hingga dini hari. (*)











