PanselaNews.com, Ponorogo – Momentum arus mudik dan balik Idul Fitri 1446 Hijriah ternyata tidak membawa berkah bagi sopir angkutan pedesaan (angdes) di Terminal Tipe A Seloaji, Ponorogo. Dikutip dari laman RRI, Rabu, 2 April 2025, sekitar 10 angdes yang biasa ngetime di terminal tersebut justru sepi penumpang. Banyak sopir angdes berwarna kuning terpaksa menganggur, bahkan ada yang tidak mendapatkan penumpang sama sekali dalam sehari.
Wiji Hartono, salah satu sopir angdes, mengungkapkan penurunan drastis jumlah penumpang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Banyak penumpang bus yang sudah dijemput keluarga di luar terminal, ditambah menjamurnya taksi online,” ujar pria berusia 50 tahun itu. Selain itu, semakin banyaknya masyarakat yang memiliki mobil pribadi juga menjadi faktor utama sepinya angdes, membuat momen Lebaran yang seharusnya ramai justru terasa sepi bagi para sopir.
Setiap hari, Wiji mangkal di shelter Terminal Seloaji dari pukul 05.00 WIB hingga 17.00 WIB, bersama rekan sesama sopir angdes dan MPU jurusan Purwantoro. Namun, selama arus mudik dan balik Lebaran 2025, ia hanya mendapat dua kali perjalanan pulang-pergi (PP) dalam sehari, dengan tujuan Slahung dan Sumoroto. Tarif yang dipatok adalah Rp100 ribu untuk Slahung dan Rp80 ribu untuk Sumoroto, tetapi jumlah penumpang tetap minim, membuat pendapatan sopir menurun signifikan.
Baca juga: Rutan Ponorogo Buka Kunjungan Keluarga 3 Hari Saat Idul Fitri 1446 H
Wiji berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih pada keberlangsungan angdes agar tidak punah. “Perbedaannya jauh dibanding dulu, setiap tahun semakin sepi,” keluhnya. Situasi ini menjadi tantangan besar bagi sopir angdes di Ponorogo, yang kini harus bersaing dengan moda transportasi modern. Tanpa intervensi, keberadaan angdes sebagai transportasi tradisional pedesaan terancam hilang dari peredaran.(*)














