PanselaNews.com [KANIGARAN] – Suasana berbeda tampak pada Car Free Day (CFD) di Jalan Suroyo hari ini Minggu (1/2/2026) pagi. Di antara lalu lalang warga yang beraktivitas, Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin hadir melihat “jemur bonsai bareng” yang diadakan Komunitas Pecinta Bonsai Konco Bonsai Ngopi Bareng.
Sekitar 90 persen bonsai yang ditampilkan ini merupakan jenis santigi, disertai jenis lain seperti kimeng, sakura, sancang, lowa, dan ileng-ileng. Berbagai gaya bonsai seperti cascade, upright, mini hingga large menjadi daya tarik tersendiri. Masyarakat dapat melihat langsung keindahan bonsai, belajar hingga menyaksikan proses perawatan seperti wiring dan pruning.
Bagi Wali Kota Amin, bonsai bukan sekedar seni tanaman hias, melainkan sarat makna kehidupan. Bentuk bonsai mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Keindahan bonsai terletak pada keseimbangan batang, cabang dan ruang, termasuk ruang hidup bagi makhluk lain.
“Proses pembentukannya pun menuntut keterampilan, kesabaran dan kepekaan seni tinggi, dari batang utama hingga ranting terkecil,” kata Wali Kota Amin yang juga menjadi pecinta bonsai dilansir dari probolinggokota.go.id.
Kolaborasi lintas sektor pun disiapkan wali kota, termasuk dengan pengrajin batik untuk menciptakan motif batik bertema bonsai. Serta pemanfaatan bonsai sebagai elemen visual dalam berbagai event kota.
Komunitas bonsai di Probolinggo telah aktif sejak beberapa tahun lalu, terutama di kawasan Pasar Minggu. Kini, komunitas mulai kembali menggeliat. Wali Kota Amin merencanakan pemindahan lokasi kegiatan ke tempat yang lebih representatif, seperti stadion. Tujuannya agar mampu menampung lebih banyak peserta dan memberikan ruang yang lebih luas untuk pameran serta edukasi bonsai.
Ketua panitia sekaligus perwakilan komunitas, Yugo Sasmita memaparkan bahwa aktivitas komunitas di CFD telah rutin berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Kunjungan Wali Kota Amin ke stan komunitas dinilai sebagai dukungan moril yang sangat berarti bagi para pecinta bonsai.
“Kegiatan “jemur bareng” dilakukan sejak pukul 06.00 hingga 10.00 pagi, diikuti sekitar 20 orang untuk memastikan tanaman mendapat sinar matahari optimal,” imbuh Yugo.
Yugo yang telah menekuni bonsai selama lima tahun mengungkapkan bahwa selain sebagai hobi, bonsai juga memiliki nilai investasi jangka panjang. Harga bonsai bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Meski demikian, Yugo menegaskan bahwa kebersamaan dan silaturahmi tetap menjadi nilai utama dalam komunitas.
“Perawatan bonsai, khususnya santigi, membutuhkan ketelatenan tinggi, bahkan menggunakan air laut sesuai habitat aslinya di kawasan pesisir,” pungkasnya.













