PanselaNews.com [BALI] – Di balik gemuruh ombak dan kemolekan pasir putih yang memikat dunia, Indonesia menapaki babak baru dalam pengelolaan pariwisata. Sebuah gerakan bersama kini tumbuh untuk memastikan napas alam kepulauan tetap panjang.
Para penggerak lingkungan, pelaku industri, dan pemangku kebijakan menempatkan isu pengelolaan sampah sebagai titik krusial dalam menjaga keberlanjutan destinasi wisata. Perubahan dimulai dari level individu dalam menangani sampah. Agar keindahan alam tetap menjadi hasil dari upaya perjuangan bersama.
Aktivis lingkungan sekaligus Founder Ecotourism Bali, Suzy Hutomo, menegaskan bahwa sampah bukanlah urusan ‘orang lain’. Melainkan tanggung jawab pribadi yang melekat pada tiap individu.
“Keindahan Bali yang luar biasa ini sebanding dengan usaha yang kita berikan. Kita harus mau repot dan berinvestasi untuk mengurus sampah,” ujar Suzy Hutomo dilansir dari rilis Kementrian Pariwisata pada Selasa (3/2/2026).
Bagi Suzy, operator wisata bahari tidak hanya melayani, tetapi juga membimbing wisatawan agar berperilaku selaras dengan kelestarian alam. Diperlukan peran langsung wisatawan untuk turut menjaga kebersihan lokasi wisata.
“Membutuhkan kolaborasi dan struktur yang kuat untuk benar-benar mempertahankan keindahan alam Bali dan Indonesia,” imbuhnya.
Selaras dengan spirit tersebut, CEO Wedoo, Valerine Chandrakesuma, menyampaikan keberlanjutan lingkungan bahari merupakan persoalan kompleks. Harus dikerjakan secara bergotong royong.
Menurutnya, kesehatan laut adalah jantung dari ekonomi pariwisata. Jika terumbu karang rusak dan ikan bermigrasi karena air yang tercemar, pesona menyelam dan berselancar kita akan hilang.
“Koral dan laut Indonesia adalah salah satu yang terindah di dunia. Menjaganya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk masa depan,” kata Valerine.
Melalui Wedoo, ia menghadirkan mesin pengelolaan sampah inovatif yang mampu mengurangi volume hingga 95 persen. Inovasi ini dirancang untuk mematahkan hambatan logistik yang selama ini dihadapi daerah terpencil. Sekaligus mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah.
“Dengan volume yang mengecil, sampah bukan lagi beban operasional yang mahal, melainkan aset bernilai ekonomi yang bisa diolah kembali,” paparnya.
Valerine berharap teknologi tersebut dapat membantu menjaga kebersihan dan keindahan wisata bahari Indonesia. Ia juga mendorong penguatan regulasi dan implementasi yang konsisten. Agar destinasi tetap lestari dalam jangka panjang.
“Harapannya semoga pemerintah memperketat dan menegakkan regulasi dengan baik, sehingga tempat yang indah ini tetap terjaga hingga ribuan tahun ke depan,” ujarnya.
Keterlibatan Masyarakat dalam Upaya Pelestarian Wisata Bahari
Upaya menjaga keberlanjutan bahari juga digalakkan masyarakat Desa Pemuteran, Bali. Keterlibatan masyarakat di bawah naungan Yayasan Karang Lestari dalam melindungi terumbu karang telah mendapatkan pengakuan internasional.
Manajer Yayasan Karang Lestari, Komang Astika, mengisahkan desa tersebut sebelumnya menghadapi kerusakan ekosistem karang. Melalui berbagai inisiatif, salah satuny penerapan metode biorock, masyarakat bersama-sama memulihkan kehidupan laut.
“Dengan mengamankan dan merestorasi terumbu karang, pariwisata Desa Pemuteran berkembang lebih baik dan semakin berkualitas,” kata Komang.
Perlahan terumbu karang pulih berkat keterlibatan warga dalam konservasi. Kesadaran kolektif tersebut mengubah tantangan ekologis menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.
Sinergi menuju destinasi kelas dunia ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah. Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengapresiasi peran seluruh pihak dalam menata ulang wisata bahari yang berkelanjutan.
Ia menegaskan, Indonesia tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga komitmen nyata untuk menjaganya. Pemerintah terus memperkuat kebijakan yang mendorong keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan pariwisata.
“Komitmen menjaga alam membutuhkan kekuatan kolektif untuk membentuk pariwisata bahari yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, memastikan lautan kita terus menginspirasi kemakmuran dan kebanggaan bagi generasi mendatang,” ungkap Wamenpar Ni Luh Puspa.














